Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Lo Kheng Hong Ternyata Ogah Beli Saham Perusahaan Start Up, Ini Alasannya!

Lo Kheng Hong ternyata mengaku ogah membeli saham perusahaan rintisan atau start up. Apa alasannya?
Lukman Nur Hakim
Lukman Nur Hakim - Bisnis.com 04 Juni 2021  |  14:03 WIB
Lo Kheng Hong, investor saham yang dijuluki Warren Buffet Indonesia, memaparkan materinya pada acara Mega Talkshow Investasi 2020 di Aula Barat Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, Jawa Barat, Sabtu (7/3/2020). Bisnis - Rachman
Lo Kheng Hong, investor saham yang dijuluki Warren Buffet Indonesia, memaparkan materinya pada acara Mega Talkshow Investasi 2020 di Aula Barat Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, Jawa Barat, Sabtu (7/3/2020). Bisnis - Rachman

Bisnis.com, JAKARTA – Lo Kheng Hong, investor kawakan Indonesia menyebut dirinya tak akan membeli saham perusahaan rintisan atau start up.

Pria yang dijuluki Warren Buffet asal Indonesia ini mengungkapkan alasan dirinya ogah membeli saham diperusahaan start-up dalam perbincangannya dengan Lukas Setia Atmaja di akun instagram Lukas (@lukas_setiaatmaja).

"Setahu saya, perusahaan start up itu untungnya kecil-kecil, gak ada yang besar. Setahu saya. Saya ini kan orang gaptek, jadi jangan tanya start up sama saya. Saya gak ngerti start up," ujar Lo Kheng Hong dalam Instgram @lukas_setiaatmaja yang diunggah, Kamis (20/5/2021).

Lo Kheng Hong mengungkapkan banyak perusahaan start up yang mengalami kerugian. Jika untung, lanjutnya, nilai keuntungannya pun sangat sedikit.

Namun, dia menyoroti fenomena valuasi perusahaan start up sangat mahal.

"Valuasinya [start up] mahal. Valuasinya mahal sekali, tapi labanya hanya sedikit. Jadi tidak mungkin saya membeli [saham] perusahaan start up atau teknologi," jelasnya.

Pria yang akrab disapa Pak Lo tersebut mengatakan ada beberapa hal yang harus dilakukan perusahaan sebelum menawarkan saham kepadanya.

Pertama, perusahaan tersebut harus terbukti memiliki laba yang besar. Kemudian, price earning ratio (PER) kecil.

"Harganya murah, price earning ratio rendah, labanya besar baru saya beli. Kalau jual ke saya masa depan, halusinasi, dongeng, gak mungkin saya beli," tegas Lo Kheng Hong.

Menurutnya, tidak mudah bagi sebuah perusahaan start up untuk mencetak laba yang besar. Lo Kheng Hong juga mengungkapkan dirinya memang masih masuk golongan konservatif. Dia mengaku hanya membeli saham jika perusahaan bisa membukukan laba yang besar.

Dia lantas memberi contoh kala membeli saham PT Clipan Finance Tbk. tahun lalu. Pak Lo mengungkap alasan membeli saham emiten berkode CFIN tersebut.

"Saya membeli Clipan Finance tahun lalu sudah terbukti labanya Rp361 miliar. Jadi gak mungkin saya beli perusahaan start up, biasanya rugi, laba kecil, dengan valuasi yang super mahal," tegasnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

start up lo kheng hong tips investasi
Editor : Feni Freycinetia Fitriani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top