Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Data Nonfarm Payroll AS Mengecewakan, Wall Street Kembali Tembus Rekor

Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup menguat 0,66 persen ke level 34.777,76, memperbarui rekor tertinggi sepanjang masa.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 08 Mei 2021  |  05:44 WIB
Lambang Nasdaq Market Site di Times Square, New York -  Bloomberg / Demetrius Freeman
Lambang Nasdaq Market Site di Times Square, New York - Bloomberg / Demetrius Freeman

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat ditutup menguat pada akhir perdagangan Jumat (7/4/2021) menyusul data tenaga kerja yang berada di bawah ekspektasi.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks Dow Jones Industrial Average ditutup menguat 0,66 persen ke level 34.777,76, memperbarui rekor tertinggi sepanjang masa.

Sejalan dengan Dow Jones, indeks S&P 500 ditutup menguat 0,74 persen ke level 4.232,60 dan indeks Nasdaq Composite naik 0,88 persen ke level 13.752,24.

Wall Street menguat ke rekor tertinggi rekor setelah data tenaga kerja yang lemah meredakan kekhawatiran terhadap kenaikan inflasi dan pengurangan stimulus.

Seluruh sektor indeks S&P 500 menguat, didorong sektor energi, real estat, dan industri. Sebelumnya, sektor teknologi memimpin karena data ekonomi yang lebih lemah mendorong investor memburu sektor ini, terutama saham-saham berkapitalisasi jumbo.

Data ketenagakerjaan yang telah lama ditunggu mengguncang pasar. Berdasarkan laporan Departemen Tenaga Kerja, data nonfarm payroll hanya naik 266.000 di bulan April, lebih rendah dari proyeksi sebesar 1 juta.

Bagi beberapa analis, angka tersebut dapat memberikan dorongan pada agenda ekonomi Presiden Joe Biden senilsi US$6 triliun dan alasan lain bagi Federal Reserve untuk mempertahankan sikap akomodatifnya.

Menteri Keuangan Janet Yellen mengatakan laporan itu menggarisbawahi kenaikan jangka panjang kembali ke pemulihan, sambil mempertahankan ekspektasinya untuk kembali ke tingkat tenaga kerja penuh tahun depan.

Analis pasar global JPMorgan Asset Management Mike Bell mengatakan data nonfarm payroll yang baru dirilis menunjukkan bahwa pemulihan tenaga kerja diperkirakan tidak secepat yang diharapkan banyak pihak.

“Jika laju kenaikan lapangan kerja yang lebih lambat ini berlanjut, maka The Fed kemungkinan akan mulai menaikkan suku bunga lebih lambat dari yang diperkirakan pasar. Meskipun kurang baik untuk ekonomi, pemulihan pekerjaan yang tidak terlalu lambat maupun cepet dapat terus mendukung pasar saham," ungkap Bell, seperti dikutip Bloomberg.

Presiden Federal Reserve Bank of Minneapolis Neel Kashkari mengatakan kepada bahwa dia tidak memiliki simpati terhadap kritik di Wall Street, yang mengecam dukungan agresif bank sentral terhadap ekonomi AS sementara jutaan warga  Amerika tetap menganggur.

“Kami perlu membangun kembali pasar tenaga kerja ini dan membuat mereka kembali bekerja. Maka akan ada banyak waktu untuk menormalisasi kebijakan moneter, ”ujarnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa as wall street
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top