Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kinerja INCO Kuartal I/2021, Produksi Turun tapi Diproyeksi Laba

Pada kuartal I/2021, Vale Indonesia mencatat produksi nikel sebesar 15.198 ton atau turun 14 persen secara tahunan.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 25 April 2021  |  11:58 WIB
Articulated dump truck mengangkut material pada pengerukan lapisan atas di pertambangan nikel PT. Vale Indonesia Tbk. di Soroako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Kamis (28/3/2019).  - Antara/Basri Marzuki
Articulated dump truck mengangkut material pada pengerukan lapisan atas di pertambangan nikel PT. Vale Indonesia Tbk. di Soroako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Kamis (28/3/2019). - Antara/Basri Marzuki

Bisnis.com, JAKARTA - Kinerja keuangan emiten pertambangan mineral, PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) diprediksi tetap moncer kendati mencatatkan penurunan volume produksi.

Analis Maybank Kim Eng Sekuritas Isnaputra Iskandar mengatakan bahwa meskipun volume produksi emiten berkode saham INCO itu lebih rendah daripada tahun sebelumnya, pihaknya tetap memperkirakan laba INCO pada kuartal I/2021 tumbuh 29,2 persen menjadi US$37,5 juta.

Hal itu didukung kenaikan Average Selling Price (ASP) sebesar US$13,806 per ton pada tiga bulan pertama tahun ini, naik 32,4 persen dibandingkan dengan periode yang sama 2020 dan terdapat penurunan pajak penghasilan badan yang efektif sebesar 22 persen. 

“Kedua hal itu mengimbangi COGS dan opex yang lebih besar sebesar US$10.500 per ton, naik 12,5 persen yoy didorong oleh harga batu bara patokan yang lebih tinggi sebesar US$88 per ton, naik 29 persen dan harga minyak yang juga naik 20 persen yoy menjadi US$61 per barel,” tulis Isnaputra dikutip dari publikasi risetnya, Minggu (25/4/2021).

Sebagai gambaran, biaya bahan bakar dan batu bara itu menyumbang sekitar 20 persen dari total cost of goods sold (COGS) perseroan pada 2020.

Adapun, pada kuartal I/2021, perusahaan mencatat produksi nikel sebesar 15.198 ton, turun 14 persen dibandingkan dengan perolehan periode yang sama tahun lalu sebesar 17.614 ton.

Sementara itu, jika dibandingkan dengan kuartal IV/2020 produksi juga turun 8 persen dari posisi 16.445 ton. Setahun penuh 2021, dengan volume produksi 64.521 ton dan total beban biaya US$11.000 per ton maka laba INCO diproyeksi dapat mencapai US$111,2 juta.

Proyeksi itu lebih tinggi 34,3 persen dari ekspektasi laba 2021 sebelumnya oleh Maybank Kim Eng Sekuritas. Setiap kenaikan 1 persen dari estimasi harga nikel dunia, proyeksi laba INCO dari Maybank Kim Eng Sekuritas akan naik 2,9 persen.

Oleh karena itu, Maybank Kim Eng Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy terhadap INCO dengan target harga Rp7.000 per saham.
“INCO adalah penerima manfaat utama dari harga nikel yang kuat, didorong oleh pemulihan ekonomi global dan meningkatnya permintaan dari kendaraan listrik,” papar Isnaputra.

Di lantai bursa, pada perdagangan Jumat (23/4/2021) INCO parkir di level Rp4.150 per saham, terkoreksi 0,95 persen. Sepanjang tahun berjalan 2021, saham INCO terkoreksi 18,63 persen. Kapitalisasi pasar INCO diposisi Rp41,24 triliun.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

korporasi emiten tambang vale indonesia tbk
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top