Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Yield SUN Indonesia Berpotensi Kembali ke 6 Persen, Ini Sebabnya

Mulai melandainya pergerakan imbal hasil obligasi AS berimbas positif pada yield Surat Utang Negara (SUN) Indonesia.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 19 April 2021  |  05:50 WIB
Ilustrasi OBLIGASI. Bisnis - Abdullah Azzam
Ilustrasi OBLIGASI. Bisnis - Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Mulai melandainya tren penguatan imbal hasil (yield) obligasi AS atau US Treasury akan menjadi sinyal positif bagi pasar Surat Utang Negara (SUN) Indonesia. Peluang yield SUN domestik kembali ke kisaran 6 persen pun masih terbuka.

Data dari laman Kementerian Keuangan AS pada Minggu (18/4/2021) mencatat, pergerakan yield US Treasury sepanjang pekan ini menunjukkan pelemahan. Pada periode 12 April – 16 April, imbal hasil surat utang AS terpantau terus melemah hingga ke titik terendahnya pada 1,56 persen, Kamis (15/4/2021) sebelum naik ke level 1,59 persen keesokan harinya.

Di sisi lain, tingkat yield SUN Indonesia pun menunjukkan tren pergerakan yang positif. Data dari World Government Bonds mencatat, imbal hasil SUN Indonesia seri acuan 10 tahun terpantau pada 6,595 persen. Dalam sebulan terakhir, yield SUN Indonesia mengalami penguatan sebesar 23,7 basis poin.

Head of Fixed Income Research Mandiri Sekuritas Handy Yunianto menjelaskan, yield US Treasury pada level 1,56 persen merupakan yang pertama kalinya terlihat dalam sebulan terakhir. Pelemahan tersebut terjadi menyusul permintaan yang baik terhadap lelang US Treasury dengan tenor 30, 10, dan 3 tahun.

“Tingkat permintaan ini mengurangi kekhawatiran pasar bahwa investor akan kesulitan menyerap limpahan pasokan US Treasury yang ada,” jelasnya saat dihubungi pada Minggu (18/4/2021).

Handy melanjutkan, mulai melandainya pergerakan imbal hasil obligasi AS berimbas positif pada yield Surat Utang Negara (SUN) Indonesia. Penguatan pasar obligasi domestik juga dinilai masih ditopang oleh kehadiran investor domestik.

Ia mengatakan, hingga akhir Maret lalu, Bank Indonesia masih menjadi pembeli terbesar SUN Indonesia dengan net buy Rp31 triliun. Sementara secara year to date (ytd), Bank Indonesia telah melakukan pembelian obligasi pemerintah sebesar Rp84,6 triliun.

Sementara itu, sektor perbankan menduduki peringkat kedua dengan nilai beli bersih Rp21,9 triliun sepanjang Maret 2021 dan Rp102,5 triliun secara ytd. Investor ritel juga mencatatkan pembelian bersih SUN Indonesia sebesar Rp21,5 triliun pada Maret 2021 dan Rp57,8 triliun secara ytd.

Handy menjelaskan, prospek penguatan imbal hasil SUN Indonesia kedepannya masih cukup terbuka kendati dibayangi oleh sentimen kenaikan yield US Treasury masih mungkin terjadi.

Menurutnya, kenaikan imbal hasil US Treasury dapat diimbangi dengan sentimen positif dari dalam negeri seperti tren suku bunga rendah yang diberlakukan Bank Indonesia, Credit Default Swap (CDS) Indonesia yang cenderung stabil, serta pergerakan rupiah yang mulai menguat.

Ia menuturkan, kondisi pasar obligasi Indonesia pada saat ini sudah berubah dibandingkan sebulan sebelumnya. Aksi jual obligasi domestik yang terjadi sepanjang Maret lalu dinilai lebih disebabkan oleh sentimen risk off.

Di sisi lain, tingkat likuiditas pasar sudah jauh lebih baik dibandingkan sebulan sebelumnya. Hal ini terjadi baik pada pasar domestik maupun di luar negeri.

“Kami masih memandang bahwa tingkat imbal hasil SUN Indonesia seri acuan 10 tahun dapat kembali ke level 6 persen hingga akhir tahun 2021,” ujar Handy.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

imbal hasil surat utang negara us treasury yield sun
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top