Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kenaikan Yield Treasury AS Jadi Batu Sandungan Inflow Asing di Pasar Obligasi

Kenaikan yield Treasury AS akan menyebabkan tekanan di imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) bertenor 10 tahun.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 22 Maret 2021  |  15:37 WIB
Pialang memperhatikan Yield SUN Indonesia - Antara/Prasetyo Utomo
Pialang memperhatikan Yield SUN Indonesia - Antara/Prasetyo Utomo

Bisnis.com, JAKARTA – Kenaikan imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun atau US Treasury menjadi penghalang aliran modal masuk asing (foreign capital inflow) ke pasar obligasi Indonesia.

Analis pun menilai penawaran masuk (incoming bid) dalam lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) besok cenderung akan sama seperti lelang sebelumnya.

Adapun, pemerintah berencana mengadakan lelang SBSN atau Sukuk Negara pada Selasa (23/3/2021) untuk memenuhi sebagian dari target pembiayaan dalam APBN 2021. Dalam lelang tersebut, pemerintah menetapkan target indikatif senilai Rp12 triliun.

Macroeconomic Analyst Bank Danamon Irman Faiz menilai penawaran masuk dalam lelang SBSN besok cenderung masih akan sama seperti incoming bid pada lelang sebelumnya.

“Karena big players seperti bank tampak sudah menyerap SBN cukup besar sekitar Rp171 triliun sejak awal tahun [termasuk SBN yang digunakan Bank Indonesia dalam operasi moneter],” jelas Faiz kepada Bisnis, Senin (22/3/2021).

Sementara itu, pergerakan yield Treasury AS yang berpotensi terus naik dapat menahan aliran dana dari investor nonresiden masuk ke pasar obligasi domestik. Pasalnya, kenaikan yield Treasury AS akan menyebabkan tekanan di imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) bertenor 10 tahun.

Selain itu, ketergantungan terhadap arus modal asing yang tinggi di suatu negara juga disebut Faiz menjadi salah satu pertimbangan investor luar negeri untuk masuk.

“Kalau kita lihat investor yang masuk ke negara berkembang [saat ini lebih banyak] itu masuknya ke China dan Korea Selatan,” ujar Faiz.

Faiz pun melihat saat ini belum ada faktor signifikan yang dapat meningkatkan penawaran masuk dalam lelang surat utang pemerintah.

Khusus untuk lelang SBSN besok, Faiz juga menunjukkan tren penawaran yang masuk cenderung menurun sejak awal tahun.

Pada lelang sukuk perdana yang diadakan pada 12 Januari 2021, pemerintah berhasil menghimpun penawaran sebesar Rp24,27 triliun. Dari jumlah tersebut, pemerintah memenangkan sebanyak Rp11,3 triliun.

Jumlah penawaran kemudian mengalami penurunan pada lelang edisi 26 Januari 2021. Kala itu, pemerintah mengumpulkan penawaran sebanyak Rp23,341 triliun dan menyerap Rp9 triliun diantaranya.

Pada lelang  9 Februari lalu, jumlah penawaran yang masuk mengalami perbaikan setelah pemerintah menghimpun Rp26,1 triliun. Dari angka tersebut, pemerintah memenangkan sebanyak Rp12 triliun.

Hasil lelang selanjutnya, 23 Februari 2021, kemudian kembali mengalami penurunan setelah mengumpulkan penawaran sebanyak Rp24,23 triliun. Dari jumlah tersebut, pemerintah memutuskan untuk menyerap dana sebesar Rp4,99 triliun.

Pada lelang terakhir 9 Maret lalu, pemerintah mencatatkan hasil penawaran terendah sejauh ini dengan Rp17,975 triliun. Dari jumlah itu, pemerintah menyerap sebesar Rp4,495 triliun.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

surat utang negara yield sun capital inflow
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top