Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Didukung Data Ekonomi China, Harga Tembaga Lanjutkan Reli

China merupakan negara dengan konsumsi logam dasar, termasuk tembaga, terbesar di dunia.
Gulungan kabel tembaga di pabrik Uralelectromed OJSC Copper Refinery yang dioperasikan oleh Ural Mining and Metallurgical Co. di Verkhnyaya Pyshma, Rusia, Selasa (7/3/2017)./Bloomberg-Andrey Rudakov
Gulungan kabel tembaga di pabrik Uralelectromed OJSC Copper Refinery yang dioperasikan oleh Ural Mining and Metallurgical Co. di Verkhnyaya Pyshma, Rusia, Selasa (7/3/2017)./Bloomberg-Andrey Rudakov

Bisnis.com, JAKARTA – Harga tembaga mencatatkan penguatan selama empat hari beruntun seiring dengan rilis data aktivitas ekonomi di China yang lebih baik dari perkiraan sebelumnya.

Berdasarkan data Bloomberg pada Selasa (16/3/2021), harga tembaga dengan kontrak tiga bulan di London Metal Exchange (LME) terpantau sempat naik 0,7 persen pada level US$9.144,50 per ton. Level harga tersebut sekaligus mencatatkan reli terpanjang komoditas ini sejak 25 Februari 2021 lalu.

Harga komoditas yang disebut sebagai “kompas” perekonomian dunia ini menguat setelah rilis data perekonomian China yang menunjukkan tingkat pertumbuhan sebesar 30 persen untuk sejumlah sektor utama seperti industri, penjualan ritel, dan investasi pendapatan tetap pada periode Januari – Februari 2021.

Sebagai informasi, China merupakan negara dengan konsumsi logam dasar, termasuk tembaga, terbesar di dunia.

Meski data tersebut terdistorsi bila dibandingkan dengan kondisi ekonomi pada masa pandemi virus corona tahun lalu, sentimen tersebut diperkuat seiring dengan disahkannya paket stimulus senilai US$1,9 triliun di Amerika Serikat.

Di sisi lain, harga tembaga juga menguat menyusul proses mediasi dengan para pekerja tambang di Los Pelambres, Chile terkait upah. Hal tersebut membuat pasar kian optimistis bahwa defisit pasokan tembaga berada di depan mata.

Laporan dari analis TD Securities, Bart Melek, menyebutkan, kenaikan aktivitas ekonomi di China berkaitan erat dengan pembatasan perjalanan yang tengah diberlakukan oleh pemerintah setempat selama masa perayaan tahun baru imlek.

“Sentimen ini mengindikasikan risiko upside untuk produksi pada sektor industri. Dengan berkurangnya perjalanan, output pada pabrik-pabrik tetap terjaga pada level yang tingii,” katanya dalam laporan tersebut pada Selasa (16/3/2021).

Sementara itu, tarif yang dikenakan smelter untuk memproses tembaga setengah jadi juga berada di level terendahnya sejak 2013 lalu. Hal ini mengindikasikan semakin berkurangnya pasokan tembaga global.

Pelaku pasar juga tengah menanti keputusan bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), terkait suku bunga acuan pada pekan ini. Pemulihan ekonomi global yang melaju kuat kemungkinan akan membuat The Fed kembali menaikkan suku bunga pada 2023 mendatang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper