Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Soal Penghapusan Kode Broker, Mantan Bos Bursa Keberatan!

Mayoritas investor ritel saat ini adalah trader, yang sering mengambil keputusan hanya berdasar info di running price. Menghapus info tersebut ekuivalen dengan menutup mata pemain ritel saat masuk ke lapangan pertandingan.
Hafiyyan & Dhiany Nadya Utami
Hafiyyan & Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 25 Februari 2021  |  09:19 WIB
Dirut BEI periode 1992-1997 Hasan Zein Mahmud (tengah) berbincang dengan Kepala Bapepam periode 1993-1995 Bacelius Ruru (kanan) dan Dirut BEI Tito Sulistio di sela-sela acara peluncuran Buku Pasar Modal di Ujung Pena di Jakarta, Selasa (15/8). - JIBI/Abdullah Azzam
Dirut BEI periode 1992-1997 Hasan Zein Mahmud (tengah) berbincang dengan Kepala Bapepam periode 1993-1995 Bacelius Ruru (kanan) dan Dirut BEI Tito Sulistio di sela-sela acara peluncuran Buku Pasar Modal di Ujung Pena di Jakarta, Selasa (15/8). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Mantan Direktur Utama PT Bursa Efek Jakarta periode 1991-1996, Hasan Zein Mahmud BEI merasa keberatan dengan rencana PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyembunyikan kode broker sebagai bagian informasi dalam running price saat jam perdagangan berlangsung.

Hasan mengungkapkan ada beberapa alasan dirinya keberatan terhadap rencana BEI tersebut. Transaksi broker menurutnya menurunkan kualitas transparansi dan level playing field. Bagi para traders, info transaksi para broker menjadi relevan dan merupakan informasi yang sensitif.

Dia pun menyoroti aksi pom-pom saham yang kerap menggiring investor untuk masuk ke saham tersebut. Hal itu bisa dikurangi bila para buzzers, pom-pom, influencers, ditampilkan di depan publik, serta dibuat aturan tata cara dan kode etik.

"Jadi influencers bisa diatur dan diminta register. Salah kaprah paling parah di pasar modal Indonesia adalah menyamakan bandar dan market makers. Market makers itu profesi jelas dan terang benderang. Bandar itu makhluk halus. Market makers itu registered, punya aturan, diawasi, punya kode etik. Bandar adalah pencari lubang, pembuat lubang," paparnya dalam keterangannya, Kamis (25/2/2021).

Hasan mencontohkan Bursa Amerika Serikat NASDAQ bertransaksi lewat market makers. Obligasi pemerintah juga diperdagangkan lewat market makers. Semua primary dealers di pasar perdana wajib menjadi market makers di pasar sekunder.

Dengan demikian, harga surat utang pemerintah federal tersebut menjadi sangat likuid, harganya transparan dan transaksinya fair. Di NYSE ada market maker yang disebut specialist. Specialists itu menyediakan likuiditas, bertindak sebagai traders of the last resort dan menjaga kewajaran harga.

"Jangan sekedar mengobati gejala penyakit. Obati sumber penyakit. Tantang para bandar itu menjadi spesialis di bursa. Beri fasilitas. Itu kalau mereka berani! Di negara yang well-regulated, bandar judi aja diatur, dan dibuat transparan," tegasnya.

Menurutnya, mayoritas investor ritel saat ini adalah trader, yang sering mengambil keputusan hanya berdasar info di running price. Menghapus info tersebut ekuivalen dengan menutup mata pemain ritel saat masuk ke lapangan pertandingan.

"Pada saat yang sama menyembunyikan dan melindungi para bandar," imbuhnya.

Hasan menuturkan Pasar Modal Indonesia butuh partisipasi masyarakat luas dalam mengembangkan dan memperdalam aktivitas bursa, tapi abai terhadap edukasi. Ada tiga tugas utama sebuah perusahaan broker, yakni edukasi, membuat pasar, dan first line filter of transaction.

"Tugas yang pertama itu sungguh mereka abaikan. Mengumpulkan calon nasabah, dicelotehi setengah sampai satu jam, dijamu makan siang, lalu disodori pembukaan rekening, bukan edukasi," ujarnya.

Di akhir tulisannya, Hasan pun berharap Pasar Modal Indonesia dan Bursa Efek Indonesia ke depannya semakin maju.

Sebelumya, berdasarkan dokumen sosialisasi pengembangan sistem dan infrastruktur teknologi informasi tahun 2021, setidaknya ada tujuh pengembangan sistem perdagangan yang akan diterapkan bursa.

Salah satunya, BEI berencana mengubah tampilan post trade antara lain penutup kode broker dan tipe investor pada tampilan post trade. Penutupan kode broker akan efektif per Juli 2021 sedangkan tipe investor per Februari 2022.

Untuk diketahui, saat ini kode broeker dan tipe investor (foreign/domestik) ditampilkan sebagai informasi post trade ke publik setiap terjadinya transaksi di BEI.

Bursa mengatakan, penyesuaian dilakukam untuk beberapa tujuan antara lain mengikuti best practice di bursa-bursa dunia karena secara umum bursa lain tidak memberikan informasi kode broker dan tipe investor sebagai bagian dari informasi post trade.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bei bursa efek indonesia investor broker
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top