Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

ISAT Jual 4.000 Menara, Apakah Bisa Laba Lagi 2021?

Indosat (ISAT) menilai bahwa manfaat investasi 5G akan makin terasa saat ekosistem 5G sudah siap.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 21 Februari 2021  |  21:21 WIB
Warga beraktivitas di gerai Indosat Ooredoo, Jakarta, Rabu (16/9/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Warga beraktivitas di gerai Indosat Ooredoo, Jakarta, Rabu (16/9/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten telekomunikasi PT Indosat Ooredoo Tbk. (ISAT) menjelaskan penjualan menara sebanyak 4.000 unit sebagai bagian dari upaya meningkatkan kinerja perusahaan pada 2021 sehingga dapat menghasilkan laba bersih.

Chief Operation Officer Indosat Ooredoo Vikram Sinha menuturkan penjualan menara sudah dilakukan sejak 2019 sebagai bagian dari normalisasi perseroan untuk dapat meningkatkan kinerja sekaligus menurunkan biaya.

"Kalau lihat di 2019 kami menjual sejumlah menara ketika sudah dinormalisasi hal-hal tersebut, kami ada peningkatan signifikan terhadap pengurangan biaya, inilah yang direfleksikan dalam kinerja kami menjadi meningkat," ujarnya dalam keterangan yang dikutip Minggu (21/2/2021).

Penjualan menara merupakan bagian dari upaya normalisasi dengan penjualan menara yang dilakukan untuk meningkatkan kinerja dan telah terjadi peningkatan signifikan pada periode sebelumnya.

"Mengenai penjualan menara pada tahun ini masih terlalu dini untuk bisa menyampaikan, karena kami baru saja memulai prosesnya, di saat ini masih terlalu awal untuk membahas mengenai itu," tuturnya.

Kendati demikian, penjualan menara ini merupakan bagian dari strategi untuk rebound dan peningkatan kinerja sepanjang 3 tahun, sejalan dengan berbagai kegiatan.

Emiten bersandi ISAT ini menjajaki penjualan 4.000 menara milik perseroan. Vikram menegaskan 5G merupakan investasi yang sangat penting di industri telekomunikasi.

Selama enam kuartal terakhir, Indosat menggenjot penggelaran jaringan, termasuk penggelaran serat optik, agar layanan yang diberikan makin prima sekaligus mempersiapkan diri dalam menyambut 5G.

“Kami juga bekerja dengan ketat dan dekat dengan regulasi serta mempersiapkan infrastruktur yang diberikan. Kami memiliki fokus yang sangat tinggi terhadap persiapan jaringan 5G,” katanya.

Dia juga mengatakan bahwa manfaat investasi 5G akan makin terasa saat ekosistem 5G sudah siap. Indosat terus menjalin komunikasi dengan regulator untuk melihat peta jalan frekuensi untuk 5G.

Emiten operator telekomunikasi itu mencatatkan kerugian Rp716,7 miliar pada 2020, meskipun pendapatan mengalami peningkatan.

Dalam laporan yang dipublikasikan manajemen Indosat di laman Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (19/2/2021), rugi tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau rugi bersih Indosat sebesar Rp716,7 miliar pada 2020. Nilai itu berbalik dari laba bersih Rp2,28 triliun pada 2019.

"Pada 2019 raihan laba bersih utamanya disebabkan oleh keuntungan penjualan menara," papar manajemen Indosat.

Pada 2019, ISAT sudah lebih dulu melepas 3.100 menaranya kepada Mitratel dan Protelindo dengan nilai total Rp6,39 triliun. Mitratel mengambil 2.100 menara, sedangkan 1.000 menara lainnya diambil alih oleh Protelindo.

Di sisi lain, pada 2020 ISAT mencatatkan kenaikan beban menjadi Rp25,53 triliun. Jumlah itu meningkat 16,6 persen dibandingkan beban pada 2019 sejumlah Rp21,89 triliun.

Peningkatan beban tersebut utamanya diakibatkan oleh beban karyawan dan beban depresiasi dan amortisasi, yang diimbangi oleh penurunan dalam beban umum dan administrasi, beban pemasaran, serta beban penyelenggaraan jasa.

Menurut manajemen ISAT, tahun 2020 merupakan tahun yang penuh tantangan dalam berbagai aspek, baik dari Covid-19 maupun tekanan dari operator lain.

Namun, di samping semua tantangan tersebut Indosat Ooredoo tetap berhasil menjaga momentum pertumbuhannya dan mencapai hasil finansial yang sangat baik.

Pada tahun 2020, total pendapatan tumbuh 6,9 persen menjadi sebesar Rp27,9 triliun, pendapatan selular tumbuh sebesar 11,6 persen menjadi Rp23,1 triliun, dan EBITDA mencapai Rp11,4 triliun, tumbuh 16 persen.

Fokus perusahaan pada penawaran yang relevan serta harga yang terjangkau, inovasi layanan digital dan pengalaman jaringan yang superior, telah menghasilkan lebih dari 14,3 persen pertumbuhan ARPU dan penambahan pelanggan yang positif. Pelanggan selular tercatat sebesar 60,3 juta pada akhir 2020, tumbuh sebesar 1,7 persen.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

indosat menara bts
Editor : Novita Sari Simamora

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top