Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Berkali-kali Kena ARB Tidak UMA dan Suspensi? Ini Penjelasan Bursa

Batas auto reject atas (ARA) dan auto reject bawah (ARB) hanya merupakan salah satu indikator saja sebelum bursa memberi peringatan UMA (unusual market activity) maupun suspensi saham.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 28 Januari 2021  |  12:49 WIB
Pengunjung memotret papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (14/9/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Pengunjung memotret papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (14/9/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa Efek Indonesia menjelaskan terdapat sejumlah parameter yang dijadikan acuan dalam pengawasan perdagangan efek.

Kondisi harga saham menyentuh batas atas auto reject (ARA) dan batas bawah auto reject (ARB) merupakan salah satu indikator saja sebelum bursa memberi peringatan UMA (unusual market activity) maupun suspensi saham.

Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan Kristian Manullang memaparkan tujuan pemantauan bursa adalah untuk melihat ada tidaknya ketidakwajaran dari transaksi yang terjadi di pasar.

“Tindakan pengawasan UMA tidak nergantung kepada ARB atau ARA. Setiap aktivitas transaksi dari semua saham dipantau secara otomatis melalui sistem SMART bursa,” kata Kristian, Kamis (28/1/2021).

Peraturan Perdagangan No II-A Pasar II.10 menyebutkan dalam rangka melakukan pengawasan perdagangan efek, bursa melakukan pemantauan terhadap informasi atas setiap efek yang herkaitan dengan fluktuasi harga dan volume, frekuensi, order/pesanan, transaksi, pola transaksi, informasi penyelesaian transaksi, dan informasi lain yang penting dan relevan.

Sebelum memutuskan untuk memberi UMA atau menghentikan sementara transaksi saham, Kristian mengatakan pihaknya akan memeriksa parameter sesuai aturan di atas.

Keputusan UMA maupun suspensi bisa diberikan apabila lebih dari satu parameter itu terpenuhi.

“Tentunya kombinasi tapi tidak seluruhnya harus terpenuhi maka bisa diindikasikan ketidakwajaran sehingga dilakukan suspensi,” jelas Kristian.

Belakangan ini, pelaku pasar mengeluhkan saham-saham yang berkali-kali menyentuh batas bawah auto reject tapi tidak mendapat peringatan UMA maupun suspensi dari bursa.

Sementara saham-saham yang mengalami kenaikan signifikan menyentuh batas atas auto reject lebih sering mendapat UMA dan suspensi.

Beberapa saham yang berkali-kali menyentuh ARB selama dua pekan berturut-turut a.l. KAEF, INAF, dan IRRA.

Sedangkan saham yang menyentuh ARA dan telah dikenakan suspensi a.l. GLOB, KIOS, dan CANI.

Mengenai hal itu, Kristian mengatakan untuk saham-saham yang turun setiap hari seperti KAEF sudah pernah diberi UMA dan suspensi.

“Saham KAEF sudah pernah kita UMA dan pernah di-suspen cooling down,” tutur Kristian.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa efek indonesia unusual market activity auto rejection
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top