Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sempat Dibuka Menguat, Rupiah Kembali Stagnan

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot terpantau stagnan di level Rp14.065 per dolar AS pada pukul 09.14 WIB.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 27 Januari 2021  |  09:24 WIB
Karyawan menghitung dolar AS di Jakarta, Rabu (18/11/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Karyawan menghitung dolar AS di Jakarta, Rabu (18/11/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah di pasar spot terpantau stagnan pada awal perdagangan hari ini, Rabu (27/1/2021).

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot terpantau stagnan di level Rp14.065 per dolar AS pada pukul 09.14 WIB.

Sebelumnya, rupiah dibuka rebound dengan penguatan 15 poin atau 0,11 persen ke level Rp14.050, setelah kemarin ditutup terkoreksi 42 poin atau 0,3 persen.

Pada saat yang sama, indeks dolar AS yang melacak pergerakan greenback terhadap mata uang utama lainnya terpantau menguat 0,049 poin atau 0,05 persen ke level 90,219 pada pukul 09.06 WIB.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi dalam laporannya mengatakan pergerakan rupiah salah satunya dipengaruhi oleh sikap pasar yang menanti kejelasan paket stimulus US$1,9 triliun yang diajukan Presiden AS, Joe Biden.

Biden pada Senin mengungkapkan kesediaannya untuk merevisi paket stimulus fiskal yang ia ajukan melalui kolaborasi antara Partai Demokrat dan Partai Republik. Meski demikian, dirinya juga mengaku siap untuk membawa proposal tersebut tanpa keterlibatan Partai Republik.

Sebelumnya, Partai Republik menyatakan penolakannya terhadap rencana paket stimulus senilai US$1,9 triliun yang dianggap terlalu besar. Sejumlah tokoh dari Partai Demokrat juga mengungkapkan kekhawatirannya terhadap nilai paket stimulus tersebut.

Selain itu, pertemuan bulanan The Fed diperkirakan akan berujung pada keputusan untuk mempertahankan suku bunga dalam kisaran 0 persen hingga 0,25 persen. Laju pembelian obligasi bulanan diharapkan akan dipertahankan pada kecepatan bulanan sebesar US$120 miliar. 

Dengan prospek The Fed yang akan mempertahankan kebijakan moneternya, perhatian investor akan fokus pada nada dari bank sentral mengenai prospek ekonominya.

Sementara itu, dari dalam negeri, perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) masih menjad katalis utama yang melemahkan nilai rupiah. Keputusan perpanjangan tersebut telah disampaikan oleh Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional Airlangga Hartarto pada pekan lalu.

Perpanjangan PPKM diprediksi mengurangi konsumsi masyarakat sehingga akan menghambat laju pemulihan ekonomi Indonesia yang berdampak negatif ke pasar. Hal tersebut terlihat dari arus modal asing yang keluar pasar dalam negeri dalam jumlah besar.

"Sehingga, wajar kalau mata uang rupiah dalam penutupan kemarin ditutup melemah," ujarnya.

Ibrahim memperkirakan pada perdagangan hari ini nilai rupiah kemungkinan akan bergerak menguat di level Rp14.060 hingga Rp14.120.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Gonjang Ganjing Rupiah nilai tukar rupiah
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top