Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Saham BUMN Karya Anjlok Berjamaah, Susul Sektor Farmasi?

Empat saham BUMN Karya kompak melemah pada perdagangan hari ini, Selasa (19/1/2021) setelah mencetak penguatan cukup tajak sejak awal tahun. Apakah tren ini masih akan berlanjut seperti halnya saham farmasi?
Pekerja menggunakan alat berat beraktivitas di proyek infrastruktur milik salah satu BUMN Karya di Jakarta, Kamis (13/2/2020). Bisnis/Arief Hermawan P
Pekerja menggunakan alat berat beraktivitas di proyek infrastruktur milik salah satu BUMN Karya di Jakarta, Kamis (13/2/2020). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA - Harga saham BUMN Karya secara berjamaah amblas pada perdagangan hari ini, Selasa (19/1/2021). Kinerja saham BUMN karya yang jeblok seolah antiklimaks karena sejak awal tahun saham konstruksi terus melaju.

Berdasarkan data Bloomberg, saham PT Waskita Karya (Persero) Tbk, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. PT PP (Persero) Tbk, dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk. kompak melemah. 

Saham WSKT turun 6,77 persen ke level 1.790. Saham WSKT ditransaksikan sebanyak 649 juta lembar dengan nilai transaksi Rp1,19 triliun.

Setali tiga uang, saham WIKA juga melemah 6,67 persen ke posisi 2.100 setelah diperdagangkan senilai Rp279 miliar. Nasib buruk juga menghampiri saham PTPP dan ADHI yang mana masing-masing terkoreksi 6,81 persen ke level 1.985 dan anjlok 6,72 persen ke posisi 1.735.

Sementara itu, dalam periode 4 hingga 18 Januari 2021, empat saham BUMN karya mencetak cuan 10 persen hingga 28 persen (lihat tabel). Namun, kinerja saham BUMN karya hari ini seolah ‘menodai’ kinerja ciamik tersebut.

Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada mengatakan penguatan harga saham BUMN Karya seperti saham WSKT, WIKA, ADHI, dan PTPP sudah terjadi sejak akhir 2020. Penguatannya di kemudian hari pun dinilai bisa terbatas.

“[Penguatan karena] Momentum juga. Dengan adanya SWF [Sovereign Wealth Fund], dampak positifnya seperti apa ke BUMN Karya kan belum ketahuan,” jelas Reza kepada Bisnis, Selasa(19/1/2021).Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada mengatakan penguatan harga saham BUMN Karya seperti saham WSKT, WIKA, ADHI, dan PTPP sudah terjadi sejak akhir 2020. Penguatannya di kemudian hari pun dinilai bisa terbatas.

SWF atau lembaga pengelola investasi memang menjadi salah satu katalis positif yang mendongkrak harga saham BUMN karya. Presiden Joko Widodo sebelumnya mengatakan lembaga ini ditargetkan bisa menghimpun dana hingga US$20 miliar untuk investasi di berbagai sektor, termasuk infrastruktur.

Kinerja Saham BUMN Karya 4-18 Januari 2021
Kode EmitenHarga Penutupan 4 Januari 2021Harga Penutupan 18 Januari 2021Perubahan

WSKT

1.500

1.920

28,00%

WIKA

2.040

2.250

10,29%

PTPP

1.885

2.130

12,99%

ADHI

1.610

1.860

15,52%

Pemerintah juga akan segera menyetor modal tunai Rp15 triliun dan modal dalam bentuk saham badan usaha milik negara sebesar Rp50 triliun. Kepengurusan lembaga bernama Indonesia Investment Authority atau INA itu juga akan diumumkan pekan ini.

“Sebulan dua bulan ini, target [dana] yang masuk SWF berapa? Kira-kira 20 miliar...US Dollar. Itu duit gede banget,” ujar Jokowi dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) yang digelar secara virtual, Jumat (15/1/2021).

Reza pun menyarankan investor untuk tetap berhati-hati dalam mengakumulasikan saham BUMN Karya dengan terus mencermati sentimen yang ada.

Adapun, seluruh saham BUMN Karya belum direkomendasikan untuk dipegang jangka panjang. Pasalnya, dampak anggaran infrastruktur yang tinggi dan keberadaan SWF terhadap kinerja keuangan masing-masing perusahaan belum terukur.

Sebelumnya, investor kenamaan Indonesia Lo Kheng Hong tidak ikut mengoleksi saham infrastruktur.  Pak Lo, panggilan akrabnya, mengatakan tidak pernah membeli saham emiten infrastruktur termasuk dari BUMN Karya karena perusahaan di sektor tersebut cenderung memiliki utang dalam jumlah besar.

"Kebetulan saya sama sekali tidak punya sektor infrastruktur ini. WSKT, WIKA, ADHI, saya tidak punya. Kenapa? Karena saya takut beli perusahaan infrastruktur, utangnya bisa Rp50 triliun, ngeri banget. Tidak berani saya," kata Lo Kheng Hong dalam diskusi bersama KBRI Singapura, Senin (18/1/2021). 

Berdasarkan laporan keuangan per 30 September 2020, PT Waskita Karya (Persero) Tbk. membukukan total liabilitas senilai Rp91,86 triliun. PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. membukukan total liabilitas senilai Rp45,26 triliun.  Selanjutnya PT Adhi Karya (Persero) Tbk. memiliki total liabilitas senilai Rp31,96 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Dwi Nicken Tari
Editor : Rivki Maulana
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper