Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Minim Pasokan, Harga Tembaga Berpeluang Naik ke US$10.000

Upaya pengurangan emisi karbon menimbulkan sentimen bullish bagi komoditas logam dasar, termasuk tembaga. Hal ini membuat tembaga berpeluang menembus level harga US$10.000 per ton.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 18 Januari 2021  |  17:33 WIB
Gulungan kabel tembaga di pabrik Uralelectromed OJSC Copper Refinery yang dioperasikan oleh Ural Mining and Metallurgical Co. di Verkhnyaya Pyshma, Rusia, Selasa (7/3/2017). - Bloomberg/Andrey Rudakov
Gulungan kabel tembaga di pabrik Uralelectromed OJSC Copper Refinery yang dioperasikan oleh Ural Mining and Metallurgical Co. di Verkhnyaya Pyshma, Rusia, Selasa (7/3/2017). - Bloomberg/Andrey Rudakov

Bisnis.com, JAKARTA - Harga tembaga berbalik menguat seiring dengan rilis data pertumbuhan ekonomi China yang lebih baik dari perkiraan. Peluang menembus level harga US$10.000 pun terbuka seiring dengan minimnya pasokan dan prospek kemunculan beragam paket stimulus.

Berdasarkan data Bloomberg pada Senin (18/1/2021), harga tembaga di London Metal Exchange (LME) terpantau sempat naik hingga 0,2 persen di level US$7.966,50 per ton. Adapun pada penutupan perdagangan pekan lalu, harga tembaga turun 1,24 persen ke posisi US$7.949 per ton.

Salah satu faktor pendukung rebound harga tembaga adalah rilis data yang menunjukkan tingkat pertumbuhan ekonomi China naik 2,3 persen pada 2020. Hasil tersebut sekaligus menjadikan China sebagai satu-satunya ekonomi utama dunia yang tidak mencatatkan kontraksi.

Data yang dirilis Biro Statistik China juga menyebutkan, tingkat pertumbuhan ekonomi China pada kuartal IV/2020 adalah sebesar 6,5 persen, atau telah kembali ke level sebelum terjadinya pandemi virus corona.

“Pertumbuhan ekonomi China memberikan dorongan jangka pendek untuk harga tembaga. Pasar kini menganggap China sebagai motor utama pemulihan ekonomi dunia,” ujar analis Shanghai Dalu Future Co. Dikutip dari Bloomberg.

Adapun koreksi harga yang terjadi pada pekan lalu disebabkan oleh sentimen stimulus US$1,9 triliun yang mulai memudar. Kini, pelaku pasar tengah menanti inagurasi Presiden AS baru, Joe Biden, pada Rabu ini dan rancangan kebijakan dalam pidatonya.

Selain itu, kenaikan tembaga juga ditopang oleh minimnya persediaan komoditas ini secara global. Data dari sejumlah bursa mencatat, jumlah inventaris tembaga secara global berada di level terendahnya sejak 2008 lalu. Hal ini mencerminkan minimnya pasokan tembaga seiring dengan pemulihan ekonomi global yang mulai berjalan.

Laporan dari analis Bank of America, Michael Widmer dan Francisco Blanch menyebutkan, minimnya pasokan dunia akan berimbas pada defisit ketersediaan tembaga. Hal tersebut juga diperburuk dengan terganggunya proses distribusi karen pandemi virus corona.

Selain itu, laporan tersebut juga memperkirakan harga tembaga akan berada di kisaran US$9.500 per ton pada kuartal IV/2021 mendatang. Reli harga tembaga akan dimotori oleh sentimen paket stimulus, kenaikan inflasi, serta pemulihan ekonomi di wilayah Eropa dan Amerika Serikat.

Widmer dan Blanch menjelaskan, kebijakan pemerintah AS terkait perubahan iklim patut dicermati oleh pasar. Pasalnya, usaha pengurangan emisi karbon dari Negeri Paman Sam akan semakin menggairahkan harga tembaga.

“Upaya pengurangan emisi karbon menimbulkan sentimen bullish bagi komoditas logam dasar, termasuk tembaga. Hal ini membuat tembaga berpeluang menembus level harga US$10.000 per ton dalam beberapa waktu ke depan,” demikian kutipan laporan tersebut.

Selain itu, Bank of America juga memperkirakan harga rata-rata tembaga sepanjang 2021 adalah US$8.725 per ton. Prediksi ini naik 15 persen dibandingkan laporan Bank of America sebelumnya.

Riset dari Huatai Futures menyebutkan, pelaku pasar mengharapkan lebih banyak paket stimulus fiskal setelah Biden dan dua anggota Senat AS dari Partai Demokrat resmi dilantik. Munculnya paket stimulus terbaru dinilai akan memicu kenaikan konsumsi tembaga.

Sementara itu, Goldman Sachs dalam laporannya mengatakan, konsumsi logam global, termasuk tembaga, akan naik secara year-on-year pada tahun ini.

Hal tersebut terjadi seiring dengan kenaikan pembiayaan infrastruktur, menguatnya permintaan terhadap barang-barang manufaktur di China, serta tren ekspansioner manufaktur global.

“Kami mengantisipasi lonjakan permintaan komoditas logam yang belum pernah terjadi sebelumnya pada kuartal II/2021. Lonjakan tersebut disebabkan oleh puncak kegiatan manufaktur di China yang terjadi bersamaan dengan pemulihan industri di dunia bagian barat,” demikian kutipan laporan tersebut.

Sementara itu, Senior Asset manager RJO Futures John Caruso mengatakan, prospek cerah harga tembaga salah satunya didukung oleh outlook positif perekonomian China. Hal tersebut juga ditopang oleh menguatnya permintaan tembaga dari sektor infrastruktur.

Caruso memperkirakan permintaan tembaga akan tetap terjaga sepanjang paruh pertama tahun 2021. Namun, potensi penurunan masih mungkin terjadi pada akhir tahun.

“Kemungkinan permintaan tembaga akan berkurang pada paruh kedua tahun 2021 seiring dengan bertambahnya turbulensi ekonomi global pada kuartal III dan kuartal IV tahun 2021,” jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

logam tembaga harga tembaga komoditas tembaga
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top