Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Penyerapan IPO Triliunan Pada 2021 Dinilai Prospektif, Ini Sebabnya

Peningkatan jumlah investor saham menjadi kabar baik bagi emiten yang akan melakukan IPO dengan target dana jumbo.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 07 Januari 2021  |  08:25 WIB
Karyawati beraktivitas di sekitar logo PT Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Kamis (4/6/2020). Bisnis - Arief Hermawan P
Karyawati beraktivitas di sekitar logo PT Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Kamis (4/6/2020). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA - Prospek penyerapan aksi penawaran umum perdana atau initial public offering/IPO dengan nilai emisi jumbo pada tahun ini semakin menjanjikan.

Analis PT Phillip Sekuritas Anugerah Zamzami mengatakan bahwa prospek penyerapan IPO, termasuk dengan nilai emisi jumbo sekalipun sangat cerah pada tahun ini.

Hal itu pun seiring dengan meningkatnya jumlah investor domestik, terutama ritel. Pada 2020, jumlah investor saham yang terefleksi dari single investor identification (SID) tercatat sebesar 1,69 juta, melonjak 53,47 persen dari akhir 2019.

“Kondisi 2021 harusnya lebih baik dengan ekspektasi pemulihan ekonomi, apalagi dengan meningkatnya minat investor ritel untuk investasi saham. Minat terhadap saham IPO pun harapannya meningkat,” ujar Zamzami kepada Bisnis, Rabu (6/1/2021).

Sementara itu, Senior Vice President Research PT Kanaka Hita Solvera Janson Nasrial mengatakan bahwa saat ini merupakan momentum yang tepat untuk merealisasikan rencana IPO.

Dia menjelaskan bahwa kondisi pasar dengan likuiditas tinggi, yaitu dengan quantitative easing yang dilakukan Bank Indonesia, The Fed, European Central Bank (ECB), hingga Bank of Japan (BOJ) menjadi alasan utama.

Tidak hanya itu, tren suku bunga rendah juga dianggap menjadi iklim yang tepat untuk perusahaan melakukan go public.

“Jadi, IPO jumbo masih prospektif penyerapannya tahun ini, tetapi masih kembali lagi tergantung sektor emitennya,” ujar Janson kepada Bisnis, Rabu (6/1/2020).

Adapun, pada awal tahun ini Bursa Efek Indonesia (BEI) kedatangan emiten dengan nilai IPO mencapai Rp1 triliun, yaitu PT FAP Agri Tbk. (FAPA).

Belum satu jam emiten sawit itu diperdagangkan pertama kali, saham FAPA langsung mengalami auto reject atas (ARA), melesat 25 persen.

Selain itu, BEI berpotensi kedatangan calon emiten baru dengan nilai emisi IPO yang juga jumbo. Perusahaan yang bergerak di bidang poultry, PT Widodo Makmur Unggas Tbk., akan mencatatkan efeknya pada 29 Januari 2021 dengan target incaran dana mencapai Rp1,2 triliun.

Janson menilai kedua perusahaan tersebut menggunakan momentum yang tepat untuk merealisasikan IPO. Pasalnya, kedua sektor itu diproyeksi booming saat ekonomi masih dalam tahap pemulihan dan permintaan konsumen yang masih lemah.

Secara terpisah, Head of Market Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan bahwa penyerapan IPO jumbo akan sangat prospektif tahun ini, terutama untuk beberapa sektor tertentu.

Dia menjelaskan bahwa sektor yang berpotensi mendapatkan sambutan meriah jika melangsungkan IPO pada tahun ini, yaitu kesehatan, telekomunikasi, dan produsen maupun pengolah logam mineral, terutama nikel.

Wawan juga mengatakan bahwa tahun ini pasar mungkin akan sangat menantikan aksi go public oleh anak usaha PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. yaitu PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel) yang digadang-gadang juga memiliki nilai emisi jumbo.

“Dengan IHSG yang masih dalam tren penguatan, euforia investor ritel yang naik signifikan, dan vaksinasi Covid-19 ini akan jadi momentum IPO karena diproyeksi bisa diserap baik oleh pasar,” ujar Wawan kepada Bisnis, Rabu (6/1/2021).

Apalagi, dia menjelaskan dana pihak ketiga di perbankan cukup tinggi yang menjadi penanda ketersediaan dana di masyarakat cukup tinggi, bisa dialihkan masyarakat untuk menyerap aksi IPO emiten yang menarik.

Oleh karena itu, sentimen-sentimen tersebut diharapkan dapat menarik perhatian calon emiten untuk mencatatkan efeknya di BEI dengan nilai jumbo yang dalam beberapa tahun terakhir sangat sepi.

Sebelumnya, Pengamat pasar modal Universitas Indonesia Budi Frensidy menilai pasar modal masih kekurangan calon-calon emiten yang akan melantai di bursa dengan kapitalisasi pasar dan jumlah emisi yang jumbo.

Padahal, pemerintah telah memberikan insentif fiskal berupa diskon pajak penghasilan (PPh) bagi perusahaan yang melakukan IPO di BEI melalui RUU perpajakan.

Pemerintah memberikan potongan atau diskon sebanyak 3 persen, sehingga perusahaan yang melantai di bursa mendapatkan PPh sebesar 17 persen, dibandingkan dengan PPh saat ini sebesar 20 persen.

“IPO emiten kapitalisasi pasar besar masih kurang, yang BUMN dan anak BUMN harus diarahkan dari Kementerian BUMN sedangkan yang swasta mesti dipikirkan insentif tambahan selain diskon PPh,” ujar Budi kepada Bisnis,

Untuk diketahui, sepanjang 2020 terdapat 51 perusahaan yang mencatatkan sahamnya di BEI. Namun, jumlah dana yang dihimpun di pasar modal pada 2020 melalui IPO hanya mencapai Rp5,58 triliun, lebih rendah dibandingkan dengan total keseluruhan 2019 mencapai Rp14,78 triliun.

Raihan dana jumbo di pasar modal pada 2020 hanya didapatkan oleh IPO PT Metro Healthcare Indonesia Tbk. (CARE) senilai Rp1,03 triliun pada 13 Maret 2020.

Secara terpisah, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto juga menyentil raihan penggalangan dana pada 2020 yang tidak sesuai ekspektasi.

Dia berharap penghimpunan dana dari penawaran umum saham perdana atau IPO pada 2021 dapat naik signifikan daripada tahun lalu.

“BEI menargetkan 30 perusahaan dapat IPO tahun ini, tetapi kami harapkan jumlah dananya bisa cukup signifikan. Apalagi disampaikan yield SBN juga sudah rendah, jadi bisa dorong minat untuk banyak yang IPO dan mencari dana di pasar modal,” ujar Airlangga.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa efek indonesia ipo Aksi Korporasi rekomendasi saham
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top