Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tembaga Makin Perkasa, Lanjut Menguat ke Level Tertinggi Sejak Maret 2013

Data Bloomberg menunjukkan harga tembaga global sudah naik 75 persen sejak awal pandemi Covid-19 menyerang.
Annisa Margrit
Annisa Margrit - Bisnis.com 05 Desember 2020  |  01:28 WIB
Gulungan kabel tembaga di pabrik Uralelectromed OJSC Copper Refinery yang dioperasikan oleh Ural Mining and Metallurgical Co. di Verkhnyaya Pyshma, Rusia, Selasa (7/3/2017). - Bloomberg/Andrey Rudakov
Gulungan kabel tembaga di pabrik Uralelectromed OJSC Copper Refinery yang dioperasikan oleh Ural Mining and Metallurgical Co. di Verkhnyaya Pyshma, Rusia, Selasa (7/3/2017). - Bloomberg/Andrey Rudakov

Bisnis.com, JAKARTA – Harga tembaga melanjutkan penguatan ke level tertinggi dalam 7 tahun terakhir sejalan dengan keyakinan segera meluncurnya stimulus ekonomi AS dan perbaikan permintaan terhadap komoditas mineral ini tahun depan.

Bloomberg melaporkan Jumat (4/12/2020), harga tembaga menunjukkan tren penguatan paling tajam dalam 10 tahun setelah China meningkatkan permintaan dan adanya gangguan pasokan pada awal pandemi Covid-19. Harga sudah naik lebih dari 75 persen ketimbang posisi terendah, yakni pada Maret 2020.

Harga naik 1,3 persen ke level US$7.774 per metrik ton, yang tertinggi sejak Maret 2013. Sementara itu, komoditas logam lain diperdagangkan di level yang lebih tinggi, seperti aluminium dan nikel.

Kenaikan ini diperkirakan berlanjut seiring dengan melemahnya dolar AS, proyeksi naiknya inflasi, serta positifnya rencana pencairan stimulus.

Ada indikasi stimulus Covid-19 di AS bakal dikeluarkan menjelang pergantian tahun setelah ada rencana bersama hasil kompromi Partai Republik dan Partai Demokrat. Di sisi lain, negara-negara Eropa juga mulai menggenjot program vaksinasinya.

Pemulihan ekonomi yang didukung vaksinasi Covid-19 diperkirakan ikut meningkatkan permintaan ke level tinggi.

"Itu adalah faktor-faktor yang sangat menguntungkan dari sisi harga. Permintaan dari China menunjukkan penguatan yang stabil," papar CEO Antofagasta Plc Ivan Arriagada kepada Bloomberg TV.

Dia menambahkan pasokan akan mengalami sedikit defisit pada tahun depan. Adapun Antofagasta adalah perusahaan pertambangan asal Chile.

Sementara itu, analis TD Securities Bart Melek menyatakan ada sinyal bahwa permintaan komoditas mengalami stagnasi menyusul pandemi. Hal ini menimbulkan keraguan mengenai berapa lama reli tembaga dapat berlangsung, dengan memudarnya pertumbuhan permintaan dan mulai berkurangnya transaksi beli spekulatif terutama dari China.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china Virus Corona komoditas tembaga

Sumber : Bloomberg

Editor : Annisa Margrit
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top