Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bakal Jadi Anak Usaha BUMN, Bos Garuda Siap ‘Gedein’ Pariwisata

Garuda Indonesia berkomitmen memacu bisnis pariwisata seiring dengan kesertaan perseroan dalam Holding BUMN Pariwisata dan Pendukung.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 09 November 2020  |  13:01 WIB
Pesawat Garuda bermasker
Pesawat Garuda bermasker

Bisnis.com, JAKARTA — PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. akan menjadi anak usaha PT Survai Udara Penas (Persero) dalam proses pembentukan holding badan usaha milik negara pariwisata dan pendukung.

Rencana pembentukan holding badan usaha milik negara (BUMN) pariwisata dan pendukung terus bergulir. Komposisi induk dan anggota dari kelompok usaha pelat merah ini merupakan penambahan dari rencana holding BUMN di bidang sarana dan prasarana penerbangan yang sebelumnya direncanakan pada 2019.

Awalnya, holding itu akan beranggotakan PT Angkasa Pura I (Persero), PT Angkasa Pura II (Persero), PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk., PT Pelita Air Services, dan PT Survai Udara Penas (Persero) sebagai induk.

Namun, Kementerian BUMN di bawah komando Menteri BUMN Erick Thohir melakukan perubahan terhadap komposisi itu.

Erick mengubah skema penggabungan dari BUMN penerbangan dan pariwisata menjadi BUMN pariwisata dan pendukung. Survai Udara Penas tetap menjadi induk holding.

Adapun, anggota atau sub holding bertambah denga masuknya PT Hotel Indonesia Natour (Persero), dan PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) atau Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko (Persero), hingga PT Sarinah (Persero).

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengungkapkan Survai Udara Penas akan menjadi induk holding. Menurutnya, entitas itu akan menggantikan kepemilikan saham pemerintah di perseroan.

Irfan mengklaim pembentukan holding akan mendorong sinergi yang lebih baik untuk kepentingan seluruh peserta. Kendati demikian, pihaknya belum menjabarkan secara detail bentuk kolaborasi yang akan dijalankan.

“Macam-macam sinergi, memastikan gedein pariwisata,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (9/11/2020).

Irfan baru-baru ini mengatakan rencananya holding akan terbentuk pada akhir tahun. Pihaknya optimistis pembentukan akan berdampak positif bagi pariwisata Indonesia.

Berdasarkan catatan Bisnis, ambisi pembentukan holding di sektor penerbangan telah mengemuka sejak 2019. Kementerian BUMN era Rini M. Soemarno saat itu berambisi kelompok usaha itu mampu menjadi pemain di luar negeri.

Salah satu mimpi yang ingin diwujudkan yakni dengan menjadi operator bandara di negara Asia. Kelompok usaha itu dapat mengikuti tender seperti di Filipina dan Thailand.

Berdasarkan data Bloomberg, harga saham GIAA terbang 6,61 persen ke level Rp258 pada akhir sesi pertama Senin (9/11/2020). Investor asing mencetak net sell atau jual bersih Rp189,49 juta.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

BUMN Garuda Indonesia erick thohir
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top