Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Duh, Saham BRI Syariah (BRIS) Hattrick Mepet Auto Reject Nih

Harga saham PT Bank BRI Syariah Tbk. untuk ketiga kalinya secara beruntun mendekati level auto reject bawah di awal perdagangan.
Rivki Maulana
Rivki Maulana - Bisnis.com 23 Oktober 2020  |  09:47 WIB
Karyawan menunjukan uang rupiah di salah satu kantor cabang BRI Syariah di Jakarta, Rabu (29/7/2020). Bisnis - Abdurachman
Karyawan menunjukan uang rupiah di salah satu kantor cabang BRI Syariah di Jakarta, Rabu (29/7/2020). Bisnis - Abdurachman

Bisnis.com, JAKARTA - Laju saham PT Bank BRI Syariah Tbk. bikin deg-degan. Pada awal perdagangan hari ini, Jumat (23/10/2020), saham berkode BRIS langsung terpantau turun 6,92 persen mendekati level auto reject bawah (ARB).

Berdasarkan data Bloomberg, saham BRIS dibuka di level 1.210, turun 90 poin atau 6,92 persen. Kemarin (22/10/2020), saham BRIS juga turun 6,81 persen ke level 1.300. Adapun pada Rabu (21/10/2020), saham BRIS ditutup anjlok 7 persen.

Total transaksi saham BRIS hingga pukul 09.30 WIB mencapai 21,91 juta lembar saham dengan nilai transaksi Rp26,51 miliar. Adapun saham BRIS diperdagangkan sebanyak 3.361 kali.

Kinerja saham BRIS di awal perdagangan membuat tekanan aksi jual makin panjang. Saham BRIS langsung digoyang sejak pengumuman rencana merger dengan Bank Syariah Mandiri dan BNI Syariah.

Dalam rencana merger tersebut, saham BSM dan BNI Syariah dikonversi menjadi saham BRIS. Imbasnya, pemegang saham eksisting mengalami dilusi kepemilikan saham. Induk BRIS, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. terdilukasi dari 73 persen menjadi 17,4 persen.

Saham investor publik juga berkurang dari 18,47 persen menjadi 4,4 persen.  Seorang investor BRIS bercerita, skema merger tidak menguntungkan investor ritel sama sekali. 

Dia menilai prospek BRI Syariah yang ciamik setelah merger tidak tercermin dari harga penawaran untuk investor yang menolak merger.

“Ini ibarat kena prank. Banyak angka bagus soal setelah merger tapi masa cash offer hanya 1x PBV [price to book value], gak ada gula-gula sama sekali buat investor ritel,” ujar seorang investor BRIS yang enggan disebut namanya.

Sebelumnya, salah satu pemegang saham BRIS, Ustad Yusuf Mansur menilai investor publik tidak punya pilihan terkait dilusi kepemilikan saham. Dia menekankan, dilusi adalah sebuah keniscayaan.

"Ke depan dilusi itu keniscayaan. Makanya jaga niat banget atau ya mangga ditarik, dilepas," ujarnya kepada Bisnis, Kamis (22/10/2020).

Yusuf Mansur menuturkan, dirinya akan tetap memegang saham BRIS dan tidak masalah dengan porsi saham yang terdilusi. Dia menekankan, investasi di BRI Syariah merupakan bagian dari perjuangan membesarkan industri syariah dan ekonomi umat.

"Ini bukan bicara cash in, cash out...[kita ingin] dapat bagi hasil dari Allah di dan dari setiap kegiatan perbankan syariah. Nanti keberkahan dunia [akan] ngikut," tuturnya

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bri syariah merger bank syariah
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top