Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Sentimen Masih Lesu, Investor Harus Waspada

Sejumlah sentimen diperkirakan memengaruhi pergerakan bursa saham global, termasuk pergerakan di pasar modal Indonesia.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 16 Oktober 2020  |  08:50 WIB
Pengunjung memotret papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (14/9/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Pengunjung memotret papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (14/9/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbanding terbalik dengan nilai tukar rupiah kemarin. Indeks terkoreksi namun mata uang Garuda menguat.

Berdasarkan data Bloomberg pada Kamis (15/10/2020), IHSG ditutup melemah 1,37 persen ke level 5.105,150. Koreksi tersebut sekaligus menghentikan reli indeks yang telah berlangsung selama delapan hari berturut-turut.

Direktur Perdagangan dan Penilaian Anggota Bursa PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Laksono Widodo pun mengungkapkan pandangannya mengenai koreksi indeks yang terjadi kemarin. Menurutnya, kenaikan IHSG sudah berturut-turut.

“Pasti ada saatnya take profit,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (15/10/2020).

Pelemahan IHSG juga sejalan dengan pergerakan sejumlah bursa saham lainnya di Asia yang juga terkoreksi. Indeks Shanghai Composite melemah 0,26 persen, indeks Hang Seng terkoreksi 2,06 persen, sedangkan indeks Topix melemah 0,74 persen.

 

Pergerakan Bursa Asia 15 Oktober 2020       
IndeksPerubahan (persen)
IHSG-1,37
Hang Seng-2,06
Shanghai Composite-0,26
Topix-0,74
Kospi-0,81
Straits Times-1,25

Di sisi lain, nilai tukar rupiah berhasil mengakhiri pergerakan di zona hijau pada perdagangan kemarin, bahkan di saat mata uang lainnya di Asia tertekan oleh penguatan dolar AS.

Pada perdagangan kemarin, rupiah ditutup menguat 27 poin atau 0,19 persen ke level Rp14.690 per dolar AS. Rupiah berhasil menguat di saat mayoritas mata uang Asia melemah terhadap dolar AS.

Rupiah menguat bersamaan dengan won Korea Selatan yang terapresiasi 0,32 persen. Di sisi lain, mata uang Asia lainnya terkapar di zona merah dengan pelemahan dipimpin oleh yuan yang turun 0,21 persen dan diikuti oleh dolar Taiwan dan baht yang masing-masing melemah 0,18 persen dan 0,14 persen.

Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan bahwa rupiah berhasil mendapatkan katalis positif untuk menguat melawan dolar AS dari rilis data neraca dagang September 2020.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia berhasil mencatatkan surplus neraca dagang sebesar US$2,4 miliar pada September 2020. Kinerja surplus tersebut terjadi selama lima bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Dengan demikian, pada periode Januari-September 2020, Indonesia mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar US$13,51 miliar.

“Ini merupakan surplus kelima beruntun tahun ini menjadi katalis sangat positif bagi rupiah. Selain itu, demo yang terkendali juga membantu memberikan sentimen positif untuk rupiah,” ujar Ariston kepada Bisnis, Kamis (15/10/2020).

 

Wall Street dan Bursa Eropa Lesu

Sementara itu, pergerakan bursa saham Amerika Serikat juga terkoreksi pada penutupan perdagangan Kamis. Wall Street berhasil memangkas pelemahan seriring dengan langkah pelaku pasar menunggu perkembangan kesepakatan stimulus AS.

Indeks S&P 500 ditutup melemah 0,15 persen. Indeks Dow Jones Industrial Average dan Nasdaq Composite juga terkoreksi masing-masing 0,07 persen dan 0,47 persen.

Indeks S&P 500 keluar dari posisi terendah pada akhir aesi berkat rebound saham-saham perbankan yang mengalami aksi jual dalam dua sesi terakhir.

Ketua House of Representative Nancy Pelosi mengatakan kepada Partai Demokrat bahwa paket stimulus Covid-19 tidak akan menunggu hingga Januari 2021 karena dia dijadwalkan melakukan panggilan telepon lagi dengan Menteri Keuangan Steven Mnuchin. 

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump dia akan memberikan stimulus lebih dari US$1,8 triliun untuk membantu pemulihan perekonomian AS dari dampak pandemi.

Sementara itu, pasar saham Eropa juga melemah karena kota-kota besar melakukan pembatasan untuk menekan laju penyebaran virus corona. Hal tersebut menambah kekhawatiran bahwa pembatasan dapat menyebabkan tekanan terhadap perekonomian global. Kemarin, indeks Stoxx Europe 600 merosot 2,1 persen.

Bagaimana Perdagangan Hari Ini?

Sejumlah sentimen akan mewarnai pergerakan hari ini. Di kancah regional, pergerakan bursa saham AS masih akan memengaruhi selera investor terdahap pasar saham. Sentimen ini juga bisa berdampak pada pasar saham Indonesia.

Analis Artha Sekuritas Dennies Christoper Jordan mengatakan secara teknikal IHSG sudah overbought. Menurutnya, rentang penguatan sudah sangat minim sejak beberapa sesi sebelumnya.

Dari sentimen global, Dennies menyebut investor masih wait and see terkait stimulus Amerika Serikat. Akibatnya, indeks Dow Jones juga mengalami penurunan pada sesi sebelumnya.

Untuk sentimen dari dalam negeri, lanjut dia, omnibus law masih banyak tidak disetujui. Akibatnya, kestabilan politik terganggu meski secara perekonomian akan baik ke depan.

“Selain itu, ada potensi kenaikan kasus Covid-19 karena aksi demo [penolakan omnibus law] kemarin. Saya rasa itu juga menjadi perhatian,” paparnya kepada Bisnis, Kamis (15/10/2020).

Sementara itu, Direktur Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya memperkirakan IHSG akan bergerak di rentang 4.889 hingga 5.188 pada perdagangan hari ini. Indeks, lanjutnya  melalui rentang konsolidasi wajar pasca mengalami kenaikan pada beberapa waktu sebelumnya.

“Jika terjadi koreksi wajar para investor masih dapat melakukan akumulasi pembelian dengan target jangka pendek, hari ini IHSG berpotensi terkonsolidasi,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (15/10/2020).

Sementara itu, perdagangan hari ini di bursa Asia ditopang oleh pembicaraan terkait paket stimulus yang terus bergulir di Amerika Serikat. Kesediaan Trump untuk menggulirkan paket bantuan di atas US$1,8 miliar ditolak oleh Ketua Senat AS dari Partai Republikan, Mitch McConnell.

Di sisi lain, investor juga memperhatikan sejumlah kebijakan baru yang diberlakukan pada sejumlah kota di wilayah Eropa untuk mencegah penyebaran lebih lanjut virus corona. hal tersebut terjadi menyusul lonjakan kasus positif di Benua Biru yang akan berdampak pada pemulihan ekonomi global.

Data ketenagakerjaan AS menunjukkan adanya lonjakan klaim jaminan pengangguran tertinggi sejak Agustus lalu.

"Kita perlu melihat reli luar biasa yang telah terjadi selama lima bulan belakangan. Konsolidasi pasar memang akan terjadi seiring dengan risiko baru yang muncul di Eropa dan AS berupa lonjakan kasus positif virus corona," jelas Jim McDonald, Chief Investment Strategist Northern Trust.

Terkait pergerakan rupiah, Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan bahwa sentimen dari pasar yang terus mengawasi pembicaraan Brexit, seiring dengan tenggat waktu pakta tentang hubungan Uni Eropa dengan Inggris semakin dekat.

Selain itu, pasar juga tengah menanti perkembangan vaksin merah putih yang telah mencapai 55 persen. Jika vaksin Covid-19 itu berhasil, rupiah akan mendapatkan tenaga tambahan untuk menguat lebih lanjut terhadap dolar AS.

“Dalam perdagangan pagi ini  mata uang rupiah kemungkinan akan dibuka menguat  walaupun sesi siang kembali melemah. Rupiah kemungkinan ditutup menguat terbatas sebesar 10-30 poin di level 14.660-14.710,” jelas Ibrahim melalui keterangan tertulis, Jumat (16/10/2020). 

Sementara itu, indeks dolar AS hari ini terpantau melemah 0,096 poin atau 0,1 persen ke elvel 93,76 pada pukul 08.35 WIB.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG Gonjang Ganjing Rupiah Bursa Asia Indeks BEI
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top