Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Naik 35 Persen dalam Sepekan, Saham Waskita Karya (WSKT) Terus Diburu Asing

Secara kumulatif dalam sepekan terakhir saham Waskita Karya (WSKT) naik 35 persen, mengungguli saham BUMN karya lainnya. Investor asing tercatat mencetak net buy Rp17 miliar dalam seminggu terakhir.
Dwi Nicken Tari & Rivki Maulana
Dwi Nicken Tari & Rivki Maulana - Bisnis.com 14 Oktober 2020  |  13:45 WIB
Gedung Waskita Heritage. Gedung ini merupakan kantor pusat PT Waskita Karya (Persero) Tbk, terletak di Jalan M.T Haryono, Jakarta. - istimewa
Gedung Waskita Heritage. Gedung ini merupakan kantor pusat PT Waskita Karya (Persero) Tbk, terletak di Jalan M.T Haryono, Jakarta. - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA  - Saham PT Waskita Karya (Persero) Tbk. tengah dalam tren bullish dalam sepekan terakhir dan berhasil naik hampir 35 persen. Investor asing terpantau berbondong-bondong memborong saham Waskita Karya.

Berdasarkan data Bloomberg, saham Waskita Karya naik ,284 persen k elevel 725 pada akhir sesi pertama perdagangan hari ini, Rabu (14/10/2020). Di awal sesi kedua, saham WSKT tetap berada di jalur hijau.

Pada akhir sesi pertama, total perdagangan saham WSKT mencapai 100,81 juta lembar dengan nilai transaksi Rp70,05 miliar. Investor asing mencatat nilai beli bersih atau net buy Rp868 juta. Dalam sepekan terakhir, investor asing memborong saham WKST Rp17,96 miliar.

Kinerja saham WSKT boleh dibilang paling unggul dibandingkan dengan tiga BUMN karya lainnya. Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, net buy Waskita Karya paling tinggi dibandingkan dengan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT PP (Persero) Tbk, dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk.

Dalam sepekan terakhir, net buy saham WIKA tercatat Rp8,46 miliar sedangkan net buy saham PTPP sebanyak Rp1,2 miliar. Adapun saham ADHI malah tercatat net sell Rp3 miliar.

Secara umum, sektor konstruksi disebut mendapat benefit dari pengesahan omnibus law UU Cipta Kerja.

JP Morgan dalam laporan riset terbarunya menyebut sektor infrastruktur akan menerima berkah dari pengesahan omnibus law UU Cipta Kerja. Beleid ini mengatur penyederhanaan dalam proses pembebasan lahan sehingga menjadi sentimen positif bagi emiten konstruksi.

Lewat omnibus law UU Cipta Kerja, kompensasi dalam pengadaan lahan ditentukan oleh pihak appraisal dan bersifat final sehingga keberatan langsung diajukan melalui pengadilan. Lewat undang-undang ini, juga proses administrasi dipangkas menjadi maksimal 88 hari.

"Ini secara signifikan mengurangi risiko keterlambatan proyek yang diakibatkan oleh pembebasan lahan," tulis JP Morgan dalam riset yang dikutip Bisnis, Selasa (13/10/2020).

Di sisi lain, Manajemen Waskita Karya menargetkan tambahan total kas masuk senilai Rp20 triliun - Rp21 triliun pada periode Oktober-Desember 2020.

SVP Corporate Secretary Waskita Karya Ratna Ningrum menyampaikan raihan dana segar itu akan didapatkan dari pembayaran termin proyek senilai Rp13 triliun - Rp14 triliun dan divestasi beberapa ruas tol milik perseroan senilai Rp7 triliun - Rp8 triliun.

"Dapat disampaikan bahwa sampai saat ini kegiatan operasional konstruksi pada proyek telah berjalan normal, sehingga perseroan optimistis dapat mencapai target-targetnya tahun ini," kata Ratna kepada Bisnis, Jumat (9/10/2020).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

waskita karya Omnibus Law
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top