Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Berkat Omnibus Law, Rupiah Mampu Bertahan Saat Mata Uang Asia Tumbang

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini, Senin (12/10/2020) ditutup sama dengan level penutupan Jumat (9/10/2020). Rupiah dinilai mampu bertahan dari tren koreksi mayoritas mata uang Asia berkat sentimen omnibus law UU Cipta Kerja.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 12 Oktober 2020  |  15:53 WIB
Karyawati menghitung uang dolar AS di Jakarta, Rabu (16/9/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Karyawati menghitung uang dolar AS di Jakarta, Rabu (16/9/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup stagnan pada perdagangan hari ini, Senin (12/10/2020). Rupiah mampu bertahan dari koreksi di saat mayoritas mata uang Asia melemah terhadap dolar AS hari ini.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka di level Rp14.685 per dolar AS atau menguat dibandingkan dengan level penutupan Jumat (9/10/2020) di posisi Rp14.700. Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak di rentang Rp14.685 hingga Rp14.715 per dolar AS.

Sementara itu, nilai tukar rupiah menyentuh level Rp14.746, berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hari ini.

Berdasarkan data yang diterbitkan Bank Indonesia, kurs Jisdor hari ini mencapai Rp14.746, melemah 9 poin atau 0,06 persen dibandingkan dengan posisi Jumat pekan lalu di level Rp14.737.

Rupiah mampu bertahan dari koreksi di saat mayoritas mata uang Asia tumbang. Untuk diketahui, indeks dolar AS menguat 0,05 persen ke posisi 93,1050 saat perdagangan di pasar Asia ditutup.

Pelemahan mata uang Asia dipimpin oleh baht Thailand yang melemah 0,18 persen. Pelemahan juga dialami rupe India, ringgit Malaysia, peso Filipina, dan dolar Singapura. Hanya yen Jepang dan won Korea yang mampu menguat terhadap dolar AS.

Kalangan analis menilai rupiah menghadapi tarik-menarik sentimen yang sama kuat. analis valas Credit Agricole CIB Hong Kong, David Forrester mengatakan pengesahan omnibus law UU Cipta Kerja menjadi kabar bak bagi rupiah karena menjadi reformasi struktural jangka panjang.

"Ini akan meningkatkan prospek ekonomi Indonesia. Pada akhir tahun, nilai rupiah diperkirakan berada di kisaran Rp14.500 per dolar AS,” jelasnya seperti dikutip Bloomberg.

Meskipun, rupiah gagal menembus level resistance pada rerata pergerakan harian 200 harinya, level support di Rp15.000 per dolar AS pada tahun ini berhasil dipertahankan. 

Sementara itu, sentimen global masih menjadi risiko bagi nilai rupiah karena tingkat kepemilikan asing pada pasar surat berharga Indonesia. Selain itu, penyebaran virus corona, dan aksi protes penolakan omnibus law juga dapat melemahkan nilai rupiah.

Sementara itu, analis valas ANZ Banking Group Ltd, Irene Cheung, mengatakan outlook rupiah untuk beberapa pekan ke depan akan bergantung pada sentimen risiko global karena tingkat imbal hasil rupiah yang tinggi di Asia.

“Sentimen pemilu AS akan sangat signifikan karena ketidakpastian yang tinggi serta aliran berita terkait hal tersebut,” ujarnya, seperti dikutip Bloomberg.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Gonjang Ganjing Rupiah Omnibus Law
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top