Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Naik 100 Persen dalam Sepekan, Saham Bank Permata (BNLI) Jadi Ajang Spekulasi

Selama seminggu terakhir saham Bank Permata (BNLI) sudah melejit 110,26 persen, dipicu spekulasi kemungkinan go private setelah diakuisisi Bangkok Bank. Pihak pemegang saham mayoritas menyatakan perseroan akan mempertahankan status Bank Permata sebagai perusahaan terbuka.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 12 Oktober 2020  |  12:38 WIB
Nasabah melakukan transaksi perbankan melalui anjungan tunai mandiri Bank Permata di Jakarta, Rabu (12/2/2020). Bisnis - Dedi Gunawan
Nasabah melakukan transaksi perbankan melalui anjungan tunai mandiri Bank Permata di Jakarta, Rabu (12/2/2020). Bisnis - Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA – saham PT Bank Permata Tbk. melonjak 110,26 persen dalam sepekan dan terus masuk daftar top gainers di beberapa sesi perdagangan. Saham berkode BNLI diburu investor seiring spekulasi rencana go private setelah diakuisisi Bangkok Bank Ltd.

Sejak Senin (5/10/2020), saham emiten berkode saham BNLI tersebut memang sudah menguat 3,54 persen. Tak sampai disitu, pada Jumat (9/10/2020) pekan lalu, saham BNLI langsung melesat 25 persen sehingga otoritas memberikan stempel auto reject atas atau ARA untuk saham BNLI.

Belum kehilangan tajinya, saham BNLI kembali ARA sepuluh menit setelah pasar dibuka pada awal pekan ini, Senin (12/10/2020) dengan penguatan sebesar 24,56 persen ke level Rp2.460. Praktis, selama seminggu terakhir saham BNLI sudah melejit 110,26 persen.

Hingga akhir sesi pertama,  total transaksi saham BNLI sebesar Rp26,6 miliar, mayoritas dilakukan oleh pelaku pasar dalam negeri menggunakan broker Mirae Asset Sekuritas pada hari ini.

Seperti diketahui,Bangkok Bank baru saja menyelesaikan penawaran tender wajib dengan kepemilikan total saham BBL atas BNLI adalah sebanyak 27.681 miliar atau mewakili 98,71 persen dari total modal yang ditempatkan dan disetor penuh perseroan.

Kondisi ini pun mengundang spekulasi posisi BNLI sebagai perusahaan terbuka. Pasalnya, sebagai perusahaan terbuka, sebanyak 7,5 persen saham BNLI harus beredar di publik.

Perseroan menyatakan BBL dan BNLI akan berupaya memastikan ketentuan kewajiban melepas saham yang diperoleh dalam tender offer dalam jangka waktu 2 tahun ke depan. Hal ini juga dilakukan untuk memenuhi syarat free float minimum 7,5 persen.

Analis Senior RHB Sekuritas Michael Setjoadi sebelum mengatakan meski tender offer sudah selesai dan perseroan menyatakan akan memenuhi ketentuan yang ada, pelaku pasar tetap melihat sebaliknya yakni investor berekspektasi BNLI akan menjadi perusahaan tertutup atau go private di bawah kepemilikan Bangkok Bank.

Menurutnya, dengan kondisi free float di bawah 7,5 persen, pemegang saham memang bisa membeli sisa saham publik untuk sepenuhnya memiliki BNLI. Opsi lainnya, BNLI bisa melakukan rights issue untuk mencapai ketentuan free float.

Spekulasi di situasi pasar dengan volatilitas tinggi, lanjutnya, memang lebih digemari para investor saat ini, khususnya yang berasal dari kalangan ritel. Padahal, menurutnya pengabaian terhadap fundamental dan berfokus pada spekulasi seperti ini adalah hal berisiko tinggi.

“Market saat ini tidak terlalu exciting, foreign investor juga masih outflow, sosial masih tidak stabil, ekonomi masih jelek, IHSG akhirnya under pressure. Jadi, mau tidak mau yang ritel ini beralih ke spekulasi dibandingkan fundamental,” katanya.

Di lain pihak, Bangkok Bank menyatakan berkomitmen untuk mempertahankan Bank Permata sebagai perusahaan terbuka. 

"Kami akan memenuhi persyaratan untuk mempertahankan status PermataBank sebagai perusahaan publik," tulis manajemen Bangkok Bank kepada Bisnis, Minggu (11/10/2020).

Selain itu, Bangkok Bank bakal merampungkan proses integrasi tiga cabang yang ada di Indonesia dengan Bank Permata. Proses integrasi ketiga cabang tersebut diharapkan rampung pada tahun ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank permata go private bangkok bank
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top