Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga Tembaga Berbalik Melemah Setelah Sentuh Level Tertinggi

Pertumbuhan konsumsi tembaga China, konsumen utama dunia disebut masih sangat kuat sehingga menjadi katalis positif terhadap pergerakan harga. Namun, permintaan di negara lain masih sangat lemah dan jika berlanjut akan menjadi katalis negatif bagi harga tembaga.
Tembaga./Bloomberg
Tembaga./Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Harga tembaga berbalik melemah setelah sempat mencapai level penutupan tertinggi dalam dua pekan terakhir. Harga tembaga menciut seiring dengan investor menilai kemungkinan kemenangan Joe Biden dalam pemilihan presiden AS dan potensi gangguan di tambang Chili.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Kamis (8/10/2020) pukul 14.19 WIB harga tembaga di bursa London melemah 0,4 persen ke level US$6.642 per ton.

Padahal, pada penutupan perdagangan Rabu (7/10/2020) harga tembaga parkir di level US$6.679 per ton, menguat tajam 2,28 persen atau 149 poin. Sepanjang tahun berjalan 2020, tembaga telah menguat 8,18 persen.

Tim Riset Citigroup Inc mengatakan bahwa pertumbuhan konsumsi tembaga China, konsumen utama dunia, masih sangat kuat sehingga menjadi katalis positif terhadap pergerakan harga.

“Pemulihan ekonomi China telah cukup besar untuk mengembalikan konsumsi tembaga global dalam beberapa bulan terakhir mendekati level yang sama setahun yang lalu,” tulis Citigroup dalam publikasi risetnya seperti dikutip dari Bloomberg, Kamis (8/10/2020).

Namun demikian, permintaan di negara lain masih sangat lemah dan jika berlanjut akan menjadi katalis negatif bagi harga tembaga.

Adapun, harga tembaga juga mendapatkan katalis negatif dari kemungkinan kemenangan Joe Biden di pemilihan presiden AS. 

Dalam putaran baru jajak pendapat di beberapa negara bagian AS menunjukkan, Joe Biden memperlebar keunggulannya melawan Presiden AS Donald Trump dalam kontestasi itu.

Hal itu pun memicu pertanyaan tentang prospek stimulus tambahan untuk AS sehingga mendorong penguatan dolar AS karena investor memburu greenback dibandingkan dengan aset-aset berisiko.

Dolar AS yang lebih tinggi itu juga akan membuat tembaga menjadi lebih mahal untuk pembeli dengan mata uang berdenominasi selain dolar AS sehingga menghindari aksi beli.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang utama bergerak 0,04 persen ke level 93,672.

Di sisi lain, di Chili terdapat aksi mogok kerja di operasional tambang tembaga Candelaria Lundin Mining Corp. sebagai buntut desakan kenaikan upah kerja bagi para penambang.

Aksi mogok itu telah memberikan tekanan terhadap pasokan global mengingat Chili merupakan produsen tembaga terbesar dunia sehingga bisa menjadi katalis positif bagi harga tembaga untuk berbalik menguat lagi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Finna U. Ulfah
Editor : Rivki Maulana
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper