Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Medco (MEDC) Bakal Lunasi Utang Lebih Awal Rp2,7 Triliun

Ada empat obligasi yang akan dilunasi lebih awal oleh Medco Energi Internasional (MEDC). Keempat obligais itu diterbitkan pada 2016, 2017, dan 2018.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 24 September 2020  |  15:39 WIB
Fasilitas produksi dan penyimpanan terapung (Floating Production Storage and Offloading/FPSO) Belanak di South Natuna Sea Block B yang dikelola Medco E&P Natuna (MEPN). Istimewa - SKK Migas.
Fasilitas produksi dan penyimpanan terapung (Floating Production Storage and Offloading/FPSO) Belanak di South Natuna Sea Block B yang dikelola Medco E&P Natuna (MEPN). Istimewa - SKK Migas.

Bisnis.com,JAKARTA — PT Medco Energi Internasional Tbk. akan melakukan pelunasan lebih awal untuk obligasi perseroan yang akan jatuh tempo senilai Rp2,7 triliun pada 2021.

Berdasarkan keterbukaan informasi di laman Bursa Efek Indonesia (BEI) Rabu (23/9/2020), Medco Energi Internasional mengumumkan rencana rapat umum pemegang obligasi (RUPO) pada 26 Oktober dan 27 Oktober 2020. 

Pemanggilan RUPO itu dilakukan untuk pemegang empat obligasi yang diterbitkan oleh Medco. Keempat obligasi itu yakni Obligasi Berkelanjutan III Medco Energi Internasional Tahap II Tahun 2018 dan Obligasi Berkelanjutan III Medco Energi Internasional Tahap I Tahun 2018.

Selanjutnya Obligasi Berkelanjutan II Medco Energi Internasional Tahap VI Tahun 2017, dan Obligasi Berkelanjutan II Medco Energi Internasional Tahap I Tahun 2016.

Corporate Secretary Medco Energi Internasional Siendy K. Wisandana mengatakan perseroan tidak akan melakukan penundaan pembayaran. Sebaliknya, emiten berkode saham MEDC itu akan melunasi empat instrumen surat utang.

“Total Rp2,7 triliun jatuh tempo 2021. Kami melakukan pembayaran lebih awal,” jelasnya kepada Bisnis, Rabu (23/9/2020).

Sebelumnya, CEO Medco Energi Internasional Roberto Lorato mengatakan perseroan telah menanggapi terjadinya penyebaran Covid-19. MEDC melakukan penangguhan dan efisiensi pengeluaran senilai US$200 juta untuk menjaga kas dan mendukung neraca keuangan perseroan.

“Meskipun harus melakukan pengurangan program belanja modal, saya senang atas keberhasilan kedua temuan eksplorasi kami di Natuna dan Ijen,” paparnya.

MEDC melaporkan belanja modal US$67 juta pada kuartal I/2020. Realisasi itu terdiri atas sektor minyak dan gas US$51 juta dan ketenagalistrikan US$16 juta.

Adapun, realisasi belanja modal itu turun dari US$130 juta pada kuartal IV/2019 menyusul penyelesaian awal pengembangan Fase 4B Bualuang di Thailand pada Desember 2019 serta penangguhan dan efisiensi atas program belanja modal 2020.

MEDC melaporkan kerugian senilai US$20 juta pada kuartal I/2020. Keuntungan dari segmen minyak dan gas serta ketenagalistrikan diimbangi dengan kerugian di Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) seiring berlanjutnya pengembangan fase 7.

Dalam riset yang dipublikasikan melalui Bloomberg, Kepala Riset Ciptadana Sekuritas Asia Arief Budiman masih mempertahankan peringkat beli untuk saham MEDC. Bahkan, target harga saham dinaikkan dari Rp680 menjadi Rp700.

Arief memprediksi MEDC akan mencatat kerugian bersih senilai US$41 juta pada 2020. Akan tetapi, kondisi itu akan berbalik menjadi laba bersih US$27 juta pada 2021.

Ciptadana Sekuritas Asia merevisi naik perkiraan harga minyak mentah Brent sebesar 13 persen pada 2020 dan 11 persen pada 2021. Namun, rerata harga jual gas direvisi sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk mendukung listrik.

Sementara itu, Analis PT Sucor Sekuritas Hasan masih mempertahankan rekomendasi hold untuk saham MEDC. Target harga saham perseroan berada di level Rp615.

Hasan menyebut mengerek proyeksi laba bersih MEDC 15,7 persen dari US$118,1 juta menjadi US$137 juta pada 2021. Pertimbangan utama yakni rerata harga jual yang lebih tinggi.

Kendati demikian, dia menggarisbawahi sejumlah risiko dari rekomendasi yang diberikan. Salah satunya penurunan lebih dalam harga minyak serta penurunan nilai aset.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi medco
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top