Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pasar Saham Masih Volatil, Danareksa Sebut Bisnis Underwriter Masih Potensial

Danareksa Sekuritas masih memproses satu calon emiten dari kalangan swasta untuk melantai di Bursa Efek Indonesia.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 17 September 2020  |  20:08 WIB
Komisaris Utama dan Direktur Utama PT Prima Globalindo Logistik Tbk Jap Astrid Patricia (kiri) dan Darmawan Suryadi memgang sertifikat pencatatan saham perdana PT Prima Globalindo Logistik Tbk di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta (20/7 - 2020). Prima Globalindo merupakan 1 dari 46 perusahaan yang mencatatkan sahamnya di BEI sepanjang tahun berjalan.
Komisaris Utama dan Direktur Utama PT Prima Globalindo Logistik Tbk Jap Astrid Patricia (kiri) dan Darmawan Suryadi memgang sertifikat pencatatan saham perdana PT Prima Globalindo Logistik Tbk di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta (20/7 - 2020). Prima Globalindo merupakan 1 dari 46 perusahaan yang mencatatkan sahamnya di BEI sepanjang tahun berjalan.

Bisnis.com, JAKARTA — Bisnis penjaminan emisi atau underwriting dinilai masih memiliki peluang di kuartal terakhir tahun ini. Sekuritas tetap optimis kendati tidak sedikit calon emiten berguguran akibat pandemi, termasuk di antaranya anak badan usaha milik negara (BUMN).

Direktur Investment Banking Capital Market Danareksa Sekuritas Boumedine Sihombing mengatakan kendati masih sangat bergejolak, kondisi pasar modal jelang akhir tahun masih potensial untuk bisnis penjaminan emisi.

“Kami tetap ada peluang, walaupun mungkin sedikit banyak terpengaruh juga dengan prediksi tingkat  pertumbuhan ekonomi yang mungkin sedikit melambat dibandingkan sebelumnya, khususnya prospek IPO [initial public offering],” kata Boumedine ketika dihubungi Bisnis, Kamis (17/9/2020)

Dia menyebut Danareksa Sekuritas sendiri masih memproses satu calon emiten untuk melantai di bursa yakni dari perusahaan swasta. Namun, Boumedine tidak menyebut perusahaan tersebut dari sektor mana.

Adapun, seharusnya sekuritas pelat merah ini memiliki beberapa calon emiten lain, termasuk di antaranya anak usaha BUMN, tapi batal akibat perusahaan tersebut terdampak cukup parah oleh pandemi.

“Kebetulan calon emiten anak BUMN yg merencanakan IPO tersebut juga termasuk yang terdampak dari pandemi ini,” imbuh dia.

Boumediene menilai untuk calon emiten dari keluarga pelat merah masih cenderung menunggu pemulihan kondisi pasar, baik untuk penawaran umum perdana saham maupun untuk penerbitan obligasi.

Dia masih optimistis akan minat pasar terhadap efek perusahaan BUMN masih tinggi, dengan sejumlah asumsi dan kondisi antara lain pertumbuhan ekonomi, nilai tukar rupiah, tingkat suku bunga, dan lainnya.

“Sebenarnya [minat publik] bukan karena status BUMN atau bukan tapi lebih kepada sektor-sektor usaha yang mendapat impact cukup signifikan,” tukas dia.

Untuk diketahui, jumlah perusahaan baru yang mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai 46 per 16 September 2020. Jumlah tersebut menempatkan Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai bursa dengan jumlah IPO terbanyak di Asia Tenggara.

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Inarno Djajadi mengatakan angka tersebut akan terus bertambah hingga akhir tahun nanti. Dia mengungkapkan ada lima calon perusahaan yang sedang dalam proses melakukan penawaran umum.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ipo danareksa
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top