Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Momentum Pemulihan Ekonomi, Investor Borong Obligasi Dolar Terbitan China

Dilansir dari Bloomberg pada Kamis (10/9/2020), permintaan terhadap dollar bond dari China mengalami oversubscribed sebesar 7,6 kali dari jumlah penerbitannya pada Agustus 2020.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 10 September 2020  |  08:04 WIB
Petugas menata tumpukan uang dolar AS di Cash Center Bank Mandiri, Jakarta, Rabu (18/4/2018)./ANTARA FOTO - Sigid Kurniawan
Petugas menata tumpukan uang dolar AS di Cash Center Bank Mandiri, Jakarta, Rabu (18/4/2018)./ANTARA FOTO - Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA – Permintaan terhadap obligasi berdenominasi dolar AS atau dollar bond yang dikeluarkan perusahan-perusahaan China mengalami lonjakan seiring dengan momentum pemulihan ekonomi yang terjadi di Negara Panda tersebut.

Dilansir dari Bloomberg pada Kamis (10/9/2020), permintaan terhadap dollar bond dari China mengalami oversubscribed sebesar 7,6 kali dari jumlah penerbitannya pada Agustus 2020. Hasil tersebut sekaligus menjadi jumlah oversubscribed terbesar yang pernah dicatatkan di China sejak 2016 lalu.

Perusahaan-perusahaan dari China menikmati banjir pesanan obligasi dolar AS seiring dengan dukungan kebijakan dari bank sentral dan sinyal pemulihan ekonomi di negara tersebut. China memimpin penjualan obligasi di Asia dengan mencatatkan penjualan sebesar US$23 miliar pada Agustus 2020 dengan biaya pinjaman (borrowing costs) yang rendah untuk meningkatkan arus kas.

Tren lonjakan pesanan ini juga ikut dirasakan perusahaan dari sektor properti China dan negara-negara lain di Asia, karena dollar bonds dari wilayah Asia menawarkan spread tambahan dibandingkan obligasi yang diterbitkan di AS.

Powerlong Real Estate Holdings Ltd mencatat oversubscribed 2,5 kali dari nilai penerbitan sebesar US$200 juta, sementara perusahaan asal Malaysia, Axiata Group Berhad kebanjiran pesanan sebesar US$3,8 miliar dari penerbitan sukuk senilai US$500 juta.

Selain di China, wilayah Asia juga turut merasakan kenaikan minat investor terhadap dollar bond, dengan torehan oversubscribed sebanyak 5,2 kali pada Agustus 2020, atau meningkat dibandingkan dengan bulan Juli lalu.

Meskipun amat diminati pelaku pasar, jumlah penerbitan dollar bond pada pasar primer di wilayah Asia diperkirakan akan melambat. Hal tersebut terjadi karena perusahaan di wilayah tersebut menganut strategi frontloading.

Survei dari Bloomberg menunjukkan, total penerbitan obligasi di sisa empat bulan tahun 2020 pada negara-negara Asia kecuali Jepang di kisaran US$84 miliar. Jumlah tersebut juga tidak dapat menembus rekor penerbitan yang dicatatkan pada 2019 lalu senilai US$326 miliar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china obligasi as pemulihan ekonomi
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top