Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Adaro Energy (ADRO) Terus Pacu Produksi Konsesi Maruwai

PT Adaro Energy Tbk. menyatakan konsesi Maruwai menghasilkan batu bara berkalori tinggi, demi pertumbuhan kinerja yang lebih baik.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 30 Agustus 2020  |  20:46 WIB
Kegiatan pertambangan batu bara di wilayah operasional PT Adaro Energy Tbk. - adaro.com
Kegiatan pertambangan batu bara di wilayah operasional PT Adaro Energy Tbk. - adaro.com

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten pertambangan batu bara, PT Adaro Energy Tbk., memacu kontribusi produksi batu bara berkalori tinggi melalui tambang Lampunut di konsesi Maruwai, Kalimantan Tengah.

Chief Financial Officer Adaro Energy Lie Luckman mengatakan perseroan terus menggenjot kontribusi dari lini bisnis non batu bara thermal sebagai upaya untuk membatasi ketergantungan bisnis dari batu bara kalori rendah, salah satunya melalui pengembangan batu bara kokas keras (hard cooking coal).

Dia menjelaskan prospek batu bara kokas keras sangat baik mengingat komoditas itu merupakan komponen utama dari produksi baja yang belum tergantikan. Jika dibandingkan dengan batu bara thermal, cadangan batu bara kokas keras tidak banyak tersebar di dunia.

Saat ini, perseroan memiliki dua aset tambang batu bara kokas keras yaitu dari tambang Lampunut yang dikelola anak usaha PT Adaro Metcoal Companies (AMC) dalam konsesi Maruwai dan tambang di Australia melalui Kestrel Coal Mine (Kestrel).

Untuk diketahui, setelah diakuisisi pada 2010, AMC memulai produksi tambang keduanya untuk pertama kali pada kuartal IV/2019, yakni tambang Lampunut yang berada di dalam konsesi Maruwai. Lalu, pada kuartal kedua tahun ini, AMC berhasil melakukan pengapalan pertama ke Jepang dari tambang itu.

“Ke depan, kontribusi batu bara non thermal ditargetkan bisa di kisaran 1 juta ton, dan pada tahap pertama kapasitas produksi mencapai 3 juta ton. Jadi kami terus mengusahakan meningkatkan produksi dari konsesi di Kalimantan Tengah (Kalteng) itu,” papar Luckman dalam paparan publik virtual, Jumat (28/8/2020).

Dengan demikian, lini bisnis itu bisa memberikan kontribusi yang lebih tinggi terhadap pertumbuhan keseluruhan perseroan. Sepanjang paruh pertama tahun ini, penjualan batu bara melalui AMC sebesar 720.000 ton, naik 20 persen dari 6 bulan sebelumnya dan 6 persen secara year-on-year (yoy).

Sementara itu, produksi batu bara yang dapat dijual melalui Kestrel mencapai 3,1 juta ton dan penjualan mencapai 3,25 juta ton pada semester I/2020, lebih rendah 10 persen dari 6 bulan sebelumnya dan tidak berubah secara yoy.

Secara keseluruhan, total produksi batu bara pada semester I/2020 sebesar 27,29 juta ton, turun 4 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, penjualan batu bara pada semester I/2020 sebanyak 27,13 juta ton, lebih rendah 6 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Di sisi lain, Adaro Energy melaporkan penurunan pendapatan 23 persen secara yoy menjadi US$1,36 miliar pada semester I/2020.

Adapun laba yang dapat diatribusikan kepada entitas induk adalah US$155,09 juta, anjlok 47,75 persen dibandingkan dengan US$296,85 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Manajemen menyebut kondisi itu disebabkan penurunan rata-rata harga jual sebesar 18 persen serta tergerusnya volume penjualan. Seiring dengan kondisi pasar yang sulit, emiten berkode saham ADRO ini juga merevisi panduan produksi menjadi 52 juta-54 juta ton untuk periode 2020.

Lockdown

Perseroan menjelaskan penerapan lockdown oleh sejumlah negara pengimpor batu bara untuk penanggulangan Covid-19 mengakibatkan penurunan terhadap permintaan listrik industri. Akibatnya, permintaan batu bara pun turun pada semester I/2020.

Presiden Direktur dan Chief Executive Officer Adaro Energy Garibaldi Thohir mengatakan tidak dapat memungkiri kinerja perseroan pada semester I/2020 tidak kebal dari dampak penurunan permintaan batu bara. Kondisi itu disebabkan wabah Covid-19.

“Namun, kami tetap memaksimalkan upaya untuk terus berfokus kepada keunggulan operasional bisnis inti perusahaan, meningkatkan efisiensi dan produktivitas operasi, menjaga kas, serta mempertahankan posisi keuangan yang solid di tengah situasi sulit yang berdampak terhadap sebagian besar dunia usaha,” ujarnya dalam keterangan resmi yang dikutip Minggu (30/8).

Garibaldi menyampaikan pihaknya tetap yakin fundamental sektor batu bara dan energi tetap kokoh dalam jangka panjang meski menghadapi tantangan untuk beberapa waktu ke depan. Prospek itu seiring dengan dukungan aktivitas pembangunan di negara-negara Asia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

batu bara Kinerja Emiten adaro
Editor : Annisa Margrit
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top