Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kinerja Semester I/2020 ITMG Turun, Analis Masih Rekomendasikan Beli. Ini Alasannya

Untuk diketahui, emiten berkode saham ITMG itu hanya mengantongi pendapatan sebesar US$652,62 juta pada semester I/2020. Realisasi itu turun 26,89 persen dibandingkan dengan US$892,7 juta pada semester I/2019.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 21 Agustus 2020  |  18:43 WIB
Aktivitas pertambangan batu bara kelompok usaha PT Indo Tambangraya Megah Tbk.  - itmg.co.id
Aktivitas pertambangan batu bara kelompok usaha PT Indo Tambangraya Megah Tbk. - itmg.co.id

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten pertambangan batu bara, PT Indo Tambangraya Megah Tbk., tetap mendapatkan rekomendasi beli dari sejumlah analis kendati kinerja keuangan perseroan sepanjang paruh pertama tahun ini tidak begitu impresif.

Untuk diketahui, emiten berkode saham ITMG itu hanya mengantongi pendapatan sebesar US$652,62 juta pada semester I/2020. Realisasi itu turun 26,89 persen dibandingkan dengan US$892,7 juta pada semester I/2019.

Sejalan dengan pelemahan pendapatan, ITMG membukukan penurunan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada entitas induk 57,8 persen secara tahunan menjadi sebesar US$29,8 juta dibandingkan dengan perolehan laba periode yang sama tahun lalu sebesar US$70,82 juta.

Padahal, perseroan tampak telah menekan beberapa beban, salah satunya beban pokok pendapatan yang turun 23,5 persen menjadi sebesar US$558,63 juta dibandingkan dengan semester I/2019 sebesar US$730,3 juta.

Adapun, faktor utama penurunan kinerja perseroan sepanjang paruh pertama tahun ini disebabkan oleh koreksi harga batu bara yang cukup dalam dari US$68,8 per ton pada paruh pertama tahun lalu menjadi US$55,8 per ton pada semester pertama tahun ini.

Kendati demikian, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Andy Wibowo Gunawan mengatakan bahwa pihaknya mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga di level Rp10.150.

Hal itu sebabkan, pihaknya juga mempertahankan estimasi pendapatan ITMG sepanjang 2020 di kisaran US$1,3 miliar dan laba bersih di kisaran US$116 juta. Kedua estimasi itu masing-masing lebih rendah 25 persen dan 10,3 persen dibandingkan dengan realisasi 2019.

“Secara keseluruhan, kami menyukai ITMG karena menjadi ‘net cash coal player’ dan melakukan diversifikasi melalui akuisisi. Saat ini, ITMG diperdagangkan pada 5,7x dan 4,9x P/Es masing-masing pada 2020F dan 2021F. Risiko penurunan termasuk perubahan peraturan dan tren pelemahan harga batubara,” ujar Andy seperti dikutip dari publikasi risetnya, Jumat (21/8/2020).

Terpisah, Kepala Riset Kresna Sekuritas Robertus Yanuar Hardy juga mempertahankan rekomendasi beli untuk ITMG dengan target price Rp9.600 seiring dengan potensi tebar dividen interim dari perseroan.

Robertus memperkirakan, ITMG dapat membagikan dividen interim per saham sekitar Rp800- Rp815 yang diharapkan akan diumumkan pada bulan Oktober.

Estimasi itu juga sejalan dengan posisi kas dan setara kas perseroan per 30 Juni 2020 yang cukup tebal, yaitu US$207,69 juta dengan alokasi belanja modal yang rendah pada tahun ini hanya sebesar US$49,9 juta.

“Selain neracanya yang kuat dengan hutang yang relatif tanpa bunga, kami menyukai saham ini karena kualitas batu bara premium ITMG yang telah lama menjadi favorit di antara operator smelter logam dasar domestik,” tulis Robertus seperti dikutip dari publikasi risetnya, Jumat (21/8/2020).

Adapun, Robertus menyebutkan salah satu faktor penurunan laba bersih ITMG disebabkan oleh pengakuan beban pajak tangguhan yang cukup besar seiring dengan penerapan kebijakan pemangkasan tarif pajak terbaru.

Namun, investor harus mengantisipasi potensi profitabilitas yang lebih tinggi di masa mendatang oleh ITMG mengingat ekspektasi beban tersebut idealnya tidak akan muncul lagi di tahun mendatang.

Sementara itu, Analis Sinarmas Sekuritas Richard Suherman mempertahankan rekomendasi belinya untuk ITMG dengan target price Rp10.150 seiring dengan harapan pulihnya harga batu bara untuk beberapa kuartal ke depan.

Dia menjelaskan bahwa harga batu bara diyakini berangsur pulih karena melebarnya kesenjangan antara harga batu bara domestik China dan Newcastle, yaitu sekitar US$24 per ton gap dan prospek meningkatnya permintaan seiring dengan pemulihan ekonomi global.

“Meskipun kami tetap berhati-hati terhadap pemulihan industri, kami melihat risiko naik atau turun yang menarik dari perspektif harga dan penilaian batu bara saat ini,” tulis Richard seperti dikutip dari publikasi risetnya, Jumat (21/8/2020).

Adapun, pada penutupan perdagangan akhir pekan ini, Rabu (19/8/2020), ITMG parkir di level Rp8.200, stabil dari perdagangan sebelumnya. Sepanjang tahun berjalan 2020, ITMG telah terkoreksi 28,54 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pertambangan emiten tambang indo tambangraya megah
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top