Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

IHSG Reli Empat Hari Beruntun, Kok Rupiah Malah Turun Terus?

Kinerja IHSG berkebalikan dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Penguatan indeks dolar dinilai menjadi pemicu kinerja rupiah tidak sejalan engan penguatan IHSG.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 13 Agustus 2020  |  16:49 WIB
Karyawati menunjukan uang Rupiah dan dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Minggu (7/6/2020). Bisnis - Arief Hermawan P
Karyawati menunjukan uang Rupiah dan dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Minggu (7/6/2020). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali ditutup melemah di tengah tren penguatan mata uang Asia. Rupiah sudah tertindas empat hari berturut-turut di saat indeks harga gabungan (IHSG) mencetak kenaikan beruntun.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah ditutup melemah 15 poin atau 0,10 persen ke posisi Rp14.775. Di sisi lain, indeks dolar terpantau turun 0,31 persen ke posisi 93.1580. Adapun, kurs rupiah menyentuh level Rp14.877 per dolar AS berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) hari ini, Kamis (13/8/2020).

Data yang diterbitkan Bank Indonesia pagi ini menempatkan kurs referensi Jisdor di level Rp14.877 per dolar AS, melemah 100 poin atau 0,68 persen dari posisi Rp14.777 pada Rabu (12/8/2020).

Di Asia, mayoritas mata uang menguat terhadap dolar AS. Hanya rupiah, rupe India, dan Renminbi China yang melemah. Penguatan dipimpin oleh peso Filipina yang menguat 0,16 persen.

Di sisi lain, kinerja rupiah berkebalikan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Indeks menguat 0,11 persen atau 5,79 poin menjadi 5.239, kenaikan yang keempat secara beruntun.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Pieter Abdullah Redjalam mengatakan rupiah sebetulnya punya berpotensi menguat seperti IHSG karena likuiditas global cukup berlimpah. 

“Adanya harapan penemuan vaksin bisa menjadi sentimen positif masuknya dana asing. Tapi penguatan tidak terjadi, justru rupiah melemah,” ungkapnya kepada Bisnis, Kamis (13/8/2020).

Menurutnya, pelemahan rupiah lebih condong disebabkan oleh penguatan indeks dolar AS yang dimulai pada Jumat (7/8/2020) pekan lalu setelah rilis data tenaga kerja AS yang berada di atas ekspektasi.

Salah satu data yang mendukung penguatan indeks dolar adalah rata-rata upah per jam yang mengalami kenaikan 0,2 persen pada bulan Juli setelah menurun dalam 2 bulan beruntun. Naiknya rata-rata upah berpotensi memperbaiki perekonomian AS karena meningkatkan belanja rumah tangga yang merupakan tulang punggung perekonomian AS.

“Rupiah masih punya peluang kembali menguat. Likuiditas global yang berlimpah dan keyakinan pasar akan segera ditemukannya vaksin bisa menjadi penentu,” sambungnya.

Di lain pihak, Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan tepat pada Kamis (13/8/2020) ini akan menjadi hari terakhir untuk PSBB transisi di wilayah DKI Jakarta.

Jika Pemerintah DKI Jakarta, lanjutnya, mengumumkan perubahan masa transisi PSBB menjadi masa kenormalan baru, maka hal ini kemungkinan akan berdampak positif terhadap perekonomian sehingga PDB kuartal ketiga yang kemungkinan akan lebih baik walaupun hanya 0 persen

Baginya, kebijakan lanjutan oleh Pemerintah DKI Jakarta sedang ditunggu oleh pelaku pasar sehingga jika pemerintah daerah sampai membuat kesalahan fatal dalam pengambilan keputusan, hal ini akan berpengaruh terhadap masa depan ekonomi Indonesia.

“Dalam perdagangan besok Rupiah kemungkinan akan fluktuatif namun ditutup menguat tipis di level 14.740-14.800,” tutupnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG Gonjang Ganjing Rupiah dolar as
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top