Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Data Manufaktur Dorong Indeks Nasdaq ke Rekor Tertinggi

indeks Nasdaq Composite melonjak 1,47 persen ke level 10.902.80, sekaligus mencatat level tertinggi sepanjang masanya.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 04 Agustus 2020  |  05:33 WIB
Lambang Nasdaq Market Site di Times Square, New York -  Bloomberg / Demetrius Freeman
Lambang Nasdaq Market Site di Times Square, New York - Bloomberg / Demetrius Freeman

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat ditutup menguat pada Senin (3/8/2020), di tengah data ekonomi yang positif dan rencana Gedung Putih yang mempertimbangkan untuk bertindak sendiri meningkatkan tunjangan pengangguran.

Berdasarakan data Bloomberg, indeks Dow Jones Industrial Average ditutup menguat 0,89 persen ke level 26.664,4 poin, sedangkan indeks S&P 500 naik 0,72 persen ke level 3.294,61.

Sementara itu, indeks Nasdaq Composite melonjak 1,47 persen ke level 10.902.80, sekaligus mencatat level tertinggi sepanjang masanya.

Para pelaku pasar menyambut baik berita kinerja emiten teknologi, dengan Apple Inc. menetapkan rekor tertinggi sepanjang masa. Sementara itu, Microsoft Corp menguat di tengah rencana akuisisi bisnis TikTok di AS.

Sentimen lain juga datang dari data manufaktur AS yang berekspansi pada Juli dengan laju tercepat sejak Maret 2019. Sebelumnya, indeks PMI manufaktur Eropa mencapai level ekspansif untuk pertama kalinya dalam satu setengah tahun. 

Sementara itu, Gedung Putih disebut tengah menjajaki apakah Presiden Donald Trump dapat bertindak sendiri untuk memperpanjang tunjangan pengangguran.

Investor memasuki bulan Agustus dan cenderung mengesampingkan berita mengenai lonjakan infeksi virus corona. Secara global setiap empat hari tercatat ada 1 juta kasus baru.

Beberapa negara juga dilanda demonstrasi yang menginginkan pembukaan kembali kegiatan sosial dan perekonomian seperti di Jerman. Pelaku pasar juga tenah menunggu langkah stimulus baru yang perlu melewati gedung Kongres AS. 

Kinerja saham secara global disebut mulai rebound memasuki Agustus 2020. Head of fixed income at UBS Asset Management Australia mengatakan Agustus akan menjadi momentum pemulihan bagi pasar saham. 

"Tapi ini membutuhkan dukungan moneter dan fiskal  yang berkelanjutan. Butuh waktu lama untuk kembali ke posisi semula [sebelum pandemi]," ujarnya seperti dikutip dari Bloomberg.

Ketegangan antara AS dan China terus saja muncul dan siap menjegal optimisme di pasar saham. Pemerintahan Trump mengumumkan bakal melakukan tindakan terhadap perangkat lunak milik China yang dianggap menimbulkan risiko keamanan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa as
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top