Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pengamat Pasar Modal: Penormalan ARB Lebih Baik Bertahap

Saat ini Bursa Efek Indonesia (BEI) menerapkan batas auto reject bawah asimetris, yang mana batas bawah ditetapkan 7 persen untuk mengantisipasi anjloknya harga saham akibat tekanan pandemi.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 21 Juli 2020  |  17:32 WIB
Karyawan melintas di dekat layar elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (9/6/2020). Bisnis - Arief Hermawan P
Karyawan melintas di dekat layar elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (9/6/2020). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA — Pengamat menilai pengembalian batas auto reject bawah (ARB) ke posisi simetris sebaiknya dilakukan secara bertahap sesuai dengan perkembangan pasar.

Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy mengatakan meski saat ini kondisi terburuk pasar modal telah terlewati dan pasar mulai berangsur pulih, tapi volatilitas tinggi masih membayangi pasar.

Pasalnya, pelaku pasar masih menanti bagaimana wajah pertumbuhan ekonomi di dalam negeri untuk kuartal II/2020. Apalagi periode April-Juni 2020 disebut menjadi kuartal dengan pertumbuhan terburuk tahun ini.

Dia menilai lebih baik menunggu perkembangan sampai akhir bulan ini atau awal bulan Agustus mendatang, sambil sedikit demi sedikit mengubah batas auto reject bawah ke posisi sebelum pandemi.

“Artinya kalau pun dikembalikan supaya simetris nggak mesti langsung dikembalikan ke normal tapi pelan-pelan, diperkecil asimestrisnya misalnya dua minggu sekali diperbarui,” tuturnya kepada Bisnis, Selasa (21/7/2020)

Budi menyebut cara itu akan jauh lebih efektif untuk menjaga psikologis para pelaku pasar agar lebih yakin bahwa kondisi pasar sudah benar-benar membaik dan menuju keadaan normal.

Seperti diketahui, saat ini Bursa Efek Indonesia (BEI) menerapkan batas auto reject bawah asimetris, yang mana batas bawah ditetapkan 7 persen untuk mengantisipasi anjloknya harga saham akibat tekanan pandemi.

Kebijakan tersebut termaktub dalam Peraturan No. II-A Tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas dengan SK Direksi No: KEP-00025/BEI/03-2020, rentang harga saham Rp50—Rp200 akan dikenakan auto reject apabila terjadi kenaikan sebesar 35 persen atau penurunan harga saham sebesar 7 persen dalam satu hari.

Sementara untuk rentang harga saham Rp200—Rp5.000 dikenakan auto reject apabila terjadi kenaikan harga sebesar 25 persen atau penurunan harga sebesar 7 persen.

Kemudian untuk rentang harga saham di atas Rp5.000 dikenakan auto reject apabila terjadi kenaikan harga sebesar 20 persen atau penurunan harga sebesar 7 persen.

Adapun, dalam draft konsep perubahan aturan yang diterima Bisnis, hari ini, Selasa (21/7/2020), BEI tampaknya bermaksud mengembalikan aturan ARB kembali ke aturan sebelum penyesuaian aturan perdagangan pada masa pandemi.

Pada kondisi normal, auto reject atas maupun auto reject bawah terjadi ketika harga saham naik atau turun melebihi batasan persentase yang sama.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa efek indonesia auto rejection saham
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top