Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Medco (MEDC) Produksi Gas Perdana di Lapangan Meliwis, Sahamnya Fluktuasi

Produksi gas perdana di Lapangan Meliwis belum membuat saham PT Medco Energi International Tbk. (MEDC) bergerak di zona hijau.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 20 Juli 2020  |  09:59 WIB
Penampakan proyek pengembangan Lapangan gas Buntal/5 oleh Medco E&P Natuna Ltd. Istimewa / Dok. SKK Migas
Penampakan proyek pengembangan Lapangan gas Buntal/5 oleh Medco E&P Natuna Ltd. Istimewa / Dok. SKK Migas

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten minyak dan gas, PT Medco Energi International Tbk., telah memproduksi gas perdana dari lapangan Meliwis di Wilayah Kerja Lepas Pantai Madura.

Namun demikian, kabar baik tersebut belum serta merta mendongkrak saham MEDC. Pada perdagangan Senin (20/7/2020) pukul 9.51 WIB, harga saham MEDC koreksi 0,84 persen atau 4 poin menjadi Rp472. Sepanjang hari harga bergerak di rentang Rp472 - Rp480.

Sempat dibuka di zona hijau, saham MEDC berbalik terjerembap. Nilai transaksi saham MEDC pagi ini berkisar Rp7,01 miliar.

CEO Medco Energi Roberto Lotao mengatakan bahwa terlepas dari tantangan logistik dan operasional yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19, perseroan mampu menyelesaikan Pengembangan Meliwis dengan aman, dan dalam jangka waktu empat tahun sejak lapangan ditemukan.

“Ini merupakan bukti kemampuan MedcoEnergi dalam menjalankan operasi dan komitmen berkelanjutan terhadap semua pemangku kepentingan,” ujar Roberto seperti dikutip dari keterangan resminya, Senin (20/7/2020).

Untuk diketahui, Sumur Meliwis ditemukan pada 2016 ketika gas ditemukan dalam formasi Mundu. Lapangan ini dikembangkan melalui platform tidak berawak dan pipa bawah laut sepanjang 11 km ke Maleo Platform untuk memasok hingga 20 MMCFD ke industri dalam negeri di Jawa Timur.

Adapun, emiten berkode saham MEDC itu telah memangkas target produksi yang semula sebesar 110 ribu barel oil equivalent per day (boepd), menjadi di kisaran 100-105 ribu boepd di tengah fluktuasi harga minyak dan tantangan bisnis akibat pandemi Covid-19.

Penurunan produksi di atas 5 ribu boepd itu berpotensi berlanjut hingga tahun depan jika permintaan minyak mentah global masih menunjukan adanya kontraksi.

Dari panduan produksi terbaru itu terdiri atas produksi minyak di kisaran 33-38 ribu boepd dan produksi gas di kisaran 67 ribu boepd.

Kendati terdapat pemangkasan volume produksi dan belanja modal, perseroan mempertahankan biaya produksi di bawah US$10 per boe.

Selain itu, MEDC juga memangkas alokasi belanja modal atau capital expenditure (capex) 2020 yang semula sebesar US$340 juta menjadi hanya sebesar US$240 juta.

Dari belanja modal yang baru itu sebesar US$180 juta dialokasikan untuk segmen minyak dan gas, sedangkan US$60 juta untuk segmen listrik. Lebih lanjut, dari total belanja modal di segmen minyak dan gas, sebanyak US$117 juta untuk proyek PSC, US$21 juta untuk proyek non-PSC, dan US$42 juta untuk biaya eksplorasi.

“Untuk menghadapi pandemi Covid-19, MedcoEnergi secara proaktif mengkaji pengeluaran, melakukan penangguhan dan penghematan di berbagai bidang,” ujar Roberto kepada Bisnis, belum lama ini.

Adapun, perseroan belum dapat menyampaikan kinerja operasional kuartal I/2020 seiring dengan laporan keuangan kuartal tersebut yang masih dalam proses penyelesaian.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

saham medco medco energi internasional
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top