Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Simalakama Harga Minyak, Maju Kena, Mundur Juga Kena

Ketika harga minyak mentah berhasil reli dari US$16 per barel ke level US$42 per barel dalam beberapa bulan, hal itu tidak diikuti oleh kenaikan permintaan produk turunan.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 08 Juli 2020  |  05:59 WIB
Kilang Pertamina di Tanjung Priok - Bloomberg / Dimas Ardian
Kilang Pertamina di Tanjung Priok - Bloomberg / Dimas Ardian

Bisnis.com, JAKARTA -  Bagai makan buah simalakama adalah ungkapan yang cocok untuk menggambarkan situasi yang dihadapi industri penyulingan minyak saat ini. Alih-alih mendapat cuan, reli harga minyak mentah tidak selalu mendatangkan musibah. 

Sejak wabah virus corona (Covid-19) merebak ke seluruh dunia, situasi tidak lagi menjadi sama. Harga minyak olahan seperti bensin tidak kunjung memanas mengikuti kenaikan harga minyak mentah. 

Sekadar informasi, para penyuling minyak mendapat cuan dari cracking margin alias selisih dari perbedaan harga minyak mentah dengan harga bahan bakar atau produk turunan seperti bensin.Ketika harga minyak mentah berhasil reli dari US$16 per barel ke level US$42 per barel dalam beberapa bulan saja, hal itu tidak diikuti oleh kenaikan permintaan produk turunan.

Itu lah yang menyebabkan industri penyulingan minyak tidak begitu berharap harga minyak mentah bisa terus menghangat. Ancaman kelesuan sudah ada di depan mata karena permintaan minyak olahan saat musim panas yang biasanya menjadi puncak, tidak terjadi.

Pembatasan perjalanan masih seiring dengan upaya untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 menjadi penyebab utama permintaan minyak olahan seret. 

Head of Total SA, perusahaan penyulingan minyak Eropa, Patrick Pouyanne mengatakan tingkat margin dari industri penyulingan saat ini adalah bencana besar. Margin tidak hanya setipis benang, tapi juga membuat sebagian perusahaan merugi 

“Beberapa perusahaan penyulingan terpaksa memangkas ribuan pekerjanya, bahkan untuk beberapa perusahaan lain potensi gulung tikar pun muncul,” ujar Pouyanne seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (7/7/2020).

Sementara itu, VP Pasar Minyak dan Konsultasi Hilir IHS Markit Spencer Welch mengatakan margin para perusahaan penyulingan dalam lima tahun ke depan akan lebih buruk daripada rata-rata selama lima tahun terakhir, khususnya di Eropa.

“Kami sebelumnya sudah memperkirakan dalam beberapa tahun terakhir industri penyulingan sudah memasuki masa sulitnya, ternyata saat ini adalah masa-masa yang paling sulit bagi mereka,” ujar Welch.

Menurut perkiraan konsultan industri Wood Mackenzie Ltd. berdasarkan survei dengan 550 perusahaan penyulingan di seluruh dunia, pendapatan kolektif industri akan turun hingga hanya menjadi US$40 miliar pada tahun ini. Angka itu pun lebih rendah dari US$130 miliar pada 2018.

Analis industri penyulingan minyak Goldman Sachs Nikhi Bhandara mengatakan bahwa situasi luar biasa saat ini dapat menjadi katalisator untuk perubahaan keseluruhan industri penyulingan minyak.

Dia menjelaskan, saat ini merupakan era konsolidasi industri penyulingan, tidak terkecuali untuk perusahaan penyulingan top dunia seperti Exxon Mobil Corp, Royal Dutch Shell Plc., Sinopec dari China, Indian Oil Corp, dan Marathon Petroleum Corp.

“Kami yakin saat ini industri sudah memasuki era konsolidasi,” ujar Bhandara.

Apalagi, dia menjelaskan bahwa penurunan permintaan dan harga yang cukup signifikan belum mempengaruhi proyek pengembangan kilang, seperti salah satunya megaproyek yang berada di China dan Timur Tengah yang proyeknya masing-masing diyakini dapat beroperasi pada 2021 dan 2024.

Dia memperkirakan penutupan pabrik dan kilang-kilang akan banyak tutup di negara-negara maju, karena sebagian besar permintaan dan kapasitas penyulingan baru berada di negara-negara berkembang.

“Banyak kilang yang sedang dibangun di Timur Tengah dan China juga akan mendapatkan dukungan pemerintah, fakta yang hanya membuat hidup lebih menantang bagi pabrik di Eropa dan AS,” papar Bhandara.

Adapun, pada perdagangan Selasa (7/7/2020) hingga pukul 16.23 WIB harga minyak jenis WTI untuk kontrak Agustus 2020 di bursa Nymex bergerak melemah 1,23 persen ke level US$40,13 per barel.

Sementara itu, harga minyak jenis Brent untuk kontrak September 2020 di bursa ICE juga terkoreksi 0,97 persen ke level US$42,68 per barel.

Di sisi lain, secara garis besar semua pelaku usaha industri penyulingan minyak berharap harga tidak lagi bergerak ke posisi yang lebih tinggi daripada posisinya saat ini agar bertahan dari tantangan bisnis akibat Covid-19.

Satu fakta yang tidak boleh dilupakan bahwa minyak mentah adalah salah satu komoditas dunia yang paling penting. Tetapi emas hitam itu tidak akan ada artinya tanpa industri kilang yang mengubah minyak mentah menjadi produk turunan seperti bensin, solar, bahan bakar jet, dan petrokimia untuk plastik.

Mengutip judul fiilm lawas Warkop DKI tahun 1983, posisi industri penyulingan minyak bagai Maju Kena, Mundur Kena.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top