Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pernyataan Navarro Buktikan Pasar Modal Masih Sensitif Isu Perang Dagang

Pernyataan ceplas-ceplos dari Penasihat Perdagangan Gedung Putih Peter Navarro baru-baru ini menunjukkan bahwa pasar modal dunia tetap sensitif terhadap isu hubungan AS—China.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 23 Juni 2020  |  15:48 WIB
Gedung Putih di Washington DC, AS - Reuters/Jason Reed
Gedung Putih di Washington DC, AS - Reuters/Jason Reed

Bisnis.com, PEKANBARU — Sentimen penggerak pasar saham secara global masih tak bisa lepas dari isu perang dagang antara Amerika Serikat dan China.

Pernyataan ceplas-ceplos dari Penasihat Perdagangan Gedung Putih Peter Navarro baru-baru ini menunjukkan bahwa pasar modal dunia tetap sensitif terhadap isu hubungan AS—China.

Mengutip Bloomberg pada Selasa (23/6/2020), aset berisiko di negara berkembang langsung anjlok dan aset aman safe haven menguat setelah Navarro memberitahu Fox News bahwa pembicaraan kesepakatan dagang AS—China yang disusun pada Januari telah berakhir.

“Berakhir. Sudah berakhir. Iya,” kata Navarro dalam wawancara bersama Fox News ketika ditanyai kelanjutan perundingan dagang AS—China.

Tak lama setelah pernyataan Navarro membuat indeks saham di dunia melorot, Presiden AS Donald Trump pun angkat bicara melalui media sosial andalannya. Trump mencuitkan lewat Twitter bahwa kesepakatan dagang dengan China masih utuh dan diskusi terus berlangsung.

“Kesepakatan Perdagangan China sepenuhnya utuh. Semoga mereka akan terus memenuhi ketentuan dalam Perjanjian!,” cuit Trump.

Seperti biasa, satu cuitan dari orang nomor satu di AS itu pun langsung direspons oleh pelaku pasar. Indeks saham yang melemah langsung bangkit dengan cepat alias reli.

Indeks S&P500 futures turun setidaknya 1,6 persen sebelum akhirnya pulih sejam setelahnya karena dilanda aksi jual (sell off) oleh investor.

Indeks acuan MSCI Asia Pacific juga turun 0,6 persen akibat komentar Navarro seblum akhirnya rebound dengan cepat. Indeks saham di Jepang, Hong Kong, China, Taiwan, dan Korea Selatan menjadi yang paling ditinggalkan olen investor yang merespons pernyataan pesimistis Navarro.

Di sisi lain, dolar AS dan yen Jepang yang menjadi mata uang safe haven menguat. Michael Every, Global Strategist di Rabobank, menjelaskan bahwa dalam satu hari saja bisa terjadi pergerakan luar biasa di pasar saham hanya karena sentimen dagang.

“Hari ini kita bisa melihat apa yang akan datang. Tampaknya China belum akan setuju untuk tunduk pada kesepakatan dagang. Pada titik ini, Trump tampak sangat kesulitan untuk mempertahankan ‘kemenangannya’,” tulis Every.

Menurut Every, kalau China tidak juga memperbaiki posisinya terhadap impor kedelai asal AS dalam waktu dekat. bukan tidak mungkin Trump akan kembali menggertak Beijing.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Bursa Asia Donald Trump perang dagang AS vs China
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top