Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kinerja IHSG Terburuk di Regional, Apa Penyebabnya?

Panin Sekuritas mencatat indeks harga saham gabungan (IHSG) turun 21,6 persen sejak awal 2020, lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata regional yang turun 11,03 persen.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 23 Juni 2020  |  13:55 WIB
Pengunjung melintas di dekat papan layar elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (22/6/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Pengunjung melintas di dekat papan layar elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (22/6/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA — PT Panin Sekuritas Tbk. mencatat performa indeks harga saham gabungan menjadi salah satu yang terburuk di regional.

Dalam publikasi terbarunya Selasa (23/6/2020), Analis Panin Sekuritas Nico Laurens menjelaskan bahwa indeks harga saham gabungan (IHSG) tercatat turun 21,6 persen sejak awal 2020. Posisi itu menurutnya lebih buruk dibandingkan dengan rata-rata regional yang turun 11,03 persen.

“Kami melihat ini lebih disebabkan oleh faktor spesifik dalam negeri di mana kasus Covid-19 Indonesia tertinggi di Asia Tenggara,” jelasnya.

Nico mencatat kasus Covid-19 di Indonesia melewati negara tetangga di kawasan Asian Tenggara seperti Singapura, Filipina, dan Malaysia. Selain itu, tren dari kasus baru di dalam negeri juga belum menunjukkan penurunan.

Panin Sekuritas mencatat kasus baru secara harian tercatat mencapai posisi tertinggi 1.331 kasus pada, Kamis (18/6/2020). Transmission rate juga masih cukup tinggi dengan 24 dari 34 provinsi di atas 1.

Nico menjelaskan bahwa volatilitas IHSG meningkat belakangan ini. Kondisi itu menurutnya disebabkan oleh porsi investor di kategori domestik ritel.

“Investor di kategori domestik ritel yang memiliki behaviour trading jangka pendek dan spekulatif,” ujarnya.

Di sisi lain, dia juga melihat downside risk perbaikan ekonomi di Indonesia masih tinggi ke depan. Proyeksi itu sejalan dengan sejumlah faktor.

Pertama, rilis data kepercayaan bisnis dan konsumen yang masih lemah. Kedua, potensi depresiasi rupiah karena terbatasnya ruang stimulus bank sentral di dunia. Ketiga, masih meningkatnya kasus Covid-19 di dalam negeri.

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG kembali bergerak fluktuatif pada sesi perdagangan, Selasa (23/6/2020). Indeks sempat naik menyentuh level resistance 4.938,394 sebelum akhirnya jatuh ke zona merah dan parkir dengan koreksi 0,24 persen.

Secara year to date (ytd), pergerakan IHSG telah terkoreksi 22,11 persen hingga akhir sesi pertama, Selasa (23/6/2020). Total kapitalisasi pasar indeks senilai Rp5.694,104 triliun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG Bursa Asia bursa global
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top