Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Permintaan Meningkat, Harga Minyak Dekati Level US$42 per Barel

Pelaku pasar meyakini beberapa negara tidak akan lagi menerapkan pembatasan sosial (lockdown) kendati jumlah kasus baru Covid-19 belum surut. Hal ini diyakini bakal memantik permintaan minyak.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 22 Juni 2020  |  08:43 WIB
Pompa angguk di ladang minyak dan gas - Bloomberg/Andrey Rudakov
Pompa angguk di ladang minyak dan gas - Bloomberg/Andrey Rudakov

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mendekati level US$42 per barel seiring dengan ekspektasi terhadap peningkataan permintaan walaupun angka kasus positif Covid-19 terus bertambah.

Dilansir dari Bloomberg pada Senin (22/6/2020), sejumlah sentimen positif mengiringi reli harga minyak, salah satunya adalah upaya OPEC dan negara-negara pengekspor minyak untuk menyeimbangkan pasar minyak.

Produksi minyak dari OPEC pada Mei yang turun ke angka 24,19 juta barel dari 30,5 juta per barel pada bulan April kian menguatkan sentimen tersebut.

Harga minyak mengalami kenaikan pada tujuh dalam delapan minggu terakhir dengan analis dari Vitol Group dan Trafigura group mengatakan permintaan minyak mengalami kenaikan setelah pembukaan kembali kegiatan ekonomi di beberapa negara.

Chief Market Strategist di AxiCorp Ltd., Stephen Innes mengatakan, ada dukungan yang baik dari kenaikan permintaan ini, meskipun ambisi bullish tersebut dapat tertekan oleh penyebaran virus corona.

“Hal terpenting saat ini adalah apakah pemerintah-pemerintah akan kembali memberlakukan lockdown secara ketat. Melihat dari situasi sekarang, kemungkinan ini tidak akan terjadi, sementara kebijakan karantina di wilayah dengan lonjakan kasus seperti Beijing masih mungkin diberlakukan,” jelasnya.

Sementara itu, negara bagian California melaporkan lonjakan kasus positif virus corona yang melebihi rata-rata kasus mingguan di Florida. Hal serupa juga telah terjadi di Beijing, China pada pekan lalu.

DI sisi lain, eksplorasi minyak di AS juga menyusut dalam 14 minggu beruntun, dengan jumlah kilang minyak yang beroperasi pada angka terendah sejak 2009. Berdasarkan data dari Baker Hughes, jumlah pengeboran minyak yang beroperasi ada 189 buah setelah 10 pusat pengeboran minyak lain ditutup.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top