Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Stimulus Mengalir Deras, Pasar Obligasi Bakal Bergairah

Rezim suku bunga rendah akan mendorong investor untuk masuk ke pasar obligasi yang memberikan imbal hasil lebih tinggi ketimbang deposito perbankan.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 16 Juni 2020  |  18:50 WIB
Stimulus Mengalir Deras, Pasar Obligasi Bakal Bergairah
Ilustrasi OBLIGASI. Bisnis - Abdullah Azzam
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Berbagai stimulus fiskal dan moneter yang mengalir deras seiring dengan pemulihan ekonomi diharapkan turut mendongkrak pasar modal, termasuk instrumen obligasi.

President Director Schroders Indonesia Michael Tjoajadi mengatakan pandemi Covid-19 membuat disrupsi terhadap ekonomi di dunia. Ini terjadi akibat aktivitas ekonomi seiring yang terhenti seiring pemberlakuan lockdown dan beragam pembatasan demi menekan jumlah penderita Covid-19.

Di pertengahan tahun, sejumlah negara mulai melonggarkan pembatasan ; memulai kembali aktivitas perekonomian, termasuk Indonesia. Untuk memuluskan hal tersebut, kata Michael, pemerintah dan bank sentral mengeluarkan stimulus.

Sebagai gambaran, berbagai bank sentral di dunia telah menurunkan suku bunga dan mencetak uang untuk membuat arus kas kian deras dan biaya dana semakin kecil. 

“Ini tentu membuat orang lebih gampang mendapatkan uang untuk usaha, dan usaha ini diharapkan bisa membayar orang, gaji dan lainnya, sehingga daya beli tetap hidup,” tutur Michael dalam gelaran Market Update “Adapting to New Normal: Guide to Investing” yang diadakan via live streaming, Selasa (16/6/2020). 

Dia meyakini Bank Indonesia bakal menempuh langkah yang serupa, salah satunya dengan kembali menurunkan suku bunga demi melancarkan kredit ke sektor riil. Jika demikian, diharapkan harga obligasi khususnya obligasi pemerintah juga akan terus menguat.

Menurutnya, pelaku pasar saat ini harus belajar dari kondisi krisis 2008 silam. Saat itu, produk domestuk bruto (PDB) mencatatkan kontraksi kemudian melonjak signifikan berselang satu tahun.

“Kita ingat bagaimana indeks [IHSG] dan obligasi naik signifikan, jadi kalau pattern ini kembali terjadi di 2020, ini akan jadi waktu yang sangat tepat untuk berinvestasi,” tutur dia.

Lebih lanjut, Michael mengatakan dengan kondisi tersebut, nvestor akan berbondong-bondong masuk ke pasar obligasi yang menawarkan imbal hasil jauh lebih menarik dibandingkan dengan bunga deposito yang otomatis akan menyusut.

“Belum lagi kalau deposito mencairkan butuh waktu, bayar fee. Kalau ingin memperoleh income, maka obligasi pemerintah itu cukup menarik, apalagi sekarang ada ritel juga,” ungkap Michael.

Jika ingin lebih mudah dan likuid, tambahnya, investor dapat memilih opsi untuk membeli reksa dana obligasi yang tersedia dalam berbagai pilihan, misalnya berbasis aset obligasi rupiah atau berbasis obligasi dollar AS. 

Meskipun demikian, Michael tetap mengingatkan bahwa apapun instrumen investasi yang dipilih, risiko volatilitas masih akan tinggi, baik dari kekhawatiran gelombang lanjutan Covid-19, maupun risiko pasar lainnya seperti sentimen geopolitik dan perang dagang.

“Volatilitas di banyak negara sekarang masih sangat dipengaruhi oleh corona, semakin meningkat [penderitanya] maka fluktuasi itu akan terjadi, semakin kurvanya melandai maka semakin baik prospek ekonominya,” tukasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi Schroder
Editor : Rivki Maulana
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top