Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Setelah Minyak, Gas Berpotensi Sentuh Harga Minus

Pasar gas global ternyata berada dalam kondisi banjir pasokan yang luar biasa sehingga harga berpotensi turun.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 03 Juni 2020  |  10:32 WIB
Gas Alam - Bloomberg
Gas Alam - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Momok harga negatif masih menggantung di pasar energi lebih dari sebulan setelah kejatuhan dramatis harga minyak hingga menyentuh angka di bawah nol.

Sementara minyak mentah telah mengalami pemulihan yang cepat setelah kesepakatan oleh produsen terbesar untuk memangkas produksi, pasar gas global yang bernilai hingga US$600 miliar ternyata berada dalam kondisi banjir pasokan yang luar biasa.

Trader dan analis memperingatkan kemungkinan terburuk akan segera datang seiring dengan menurunnya permintaan dan pasokan yang mendekati batas atas kapasitas.

Hal ini menunjukkan seberapa jauh industri energi global pulih dari penurunan permintaan yang didorong oleh pandemi. Selain itu juga memberi sinyal akan ada lebih banyak pukulan bagi produsen shale gas mulai Texas hingga Pulau Curtis Australia.

Tidak seperti pasar minyak, tidak ada tanda-tanda tanggapan terkoordinasi untuk mengatasi kelebihan pasokan gas. Alhasil, ini berarti dampaknya bisa lebih dalam dan lebih lama.

"Kami berada di wilayah yang belum dipetakan dengan tingkat permintaan yang rendah dan stok penyimpanan yang tinggi," kata Guy Smith, kepala perdagangan gas di utilitas Swedia Vattenfall AB, dilansir Bloomberg, Rabu (3/6/2020).

Dia mengatakan, dalam jangka pendek ada risiko harga gas dapat mencapai angka negatif di Eropa. Bahan bakar, yang digunakan untuk menghasilkan tenaga dan panas dan sebagai bahan baku untuk bahan kimia dan pupuk, sudah diprediksi akan mengalami tahun yang buruk setelah musim dingin memperparah kelebihan pasokan.

Namun, keadaan berubah dari buruk menjadi lebih buruk karena pandemi itu memangkas permintaan, memaksa pembeli utama untuk menolak pengiriman. Sementara itu, produsen teratas belum juga memotong produksi.

Seperti terjunnya harga mintak pada April hingga minus US$40 per barel, penyebab utamanya adalah kurangnya kapasitas penyimpanan untuk menyerap kelebihan pasokan.

Pedagang dan analis menunjuk ke Eropa sebagai pasar pertama yang mungkin mencapai titik krisis itu, yang dapat memiliki efek riak bagi pembeli dan penjual dari AS ke Asia.

Menurut data yang dikumpulkan oleh Gas Infrastructure Europe, persediaan di seluruh Eropa berada pada rekor musiman kapasitas 73 persen, dibandingkan dengan rata-rata 5 tahun 45 persen.

"Inventarisasi penyimpanan gas Eropa adalah risiko terbesar untuk pasar gas global. Harga gas akan tertekan dan volatile karena pasar secara bertahap kehilangan salah satu alat untuk menyeimbangkan dirinya sendiri," kata Edmund Siau, analis konsultan energi FGE yang berbasis di Singapura.

Analis LNG dan Gas Swiss Axpo Group Nick Boyes mengatakan harga di Eropa akan lebih cenderung berbalik negatif dalam kontrak jangka pendek ketika tingkat injeksi penyimpanan rendah dan permintaan lemah karena cuaca yang ringan dan berangin.

"Saya pikir kemungkinan tertinggi dari hal ini terjadi pada bulan Agustus atau awal September ketika kita memiliki kebetulan terbesar dari permintaan terendah dan persediaan penyimpanan tertinggi," tambahnya.

Gas alam sebelumnya juga pernah menyentuh harga negatif. Pada 2006, harga jatuh di bawah nol di Inggris setelah keran impor komersial dari Norwegia dibuka. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak gas

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top