Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Gelontorkan US$941 Miliar, Sovereign Fund China Bidik Aset Tangguh

China Investment Corp. mencari aset tangguh di pasar saham untuk mendapatkan fasilitas pinjaman jangka panjang dari dana kekayaan negara senilai US$ 941 miliar.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 25 Mei 2020  |  08:42 WIB
China - Reuters
China - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - China Investment Corp. mencari aset tangguh di pasar saham untuk mendapatkan fasilitas pinjaman jangka panjang dari dana kekayaan negara senilai US$ 941 miliar.

Wakil Presiden Eksekutif Zhao Haiying mengatakan perusahaan yang berbasis di Beijing telah menambah investasi di pasar kredit dalam beberapa bulan terakhir, terutama investasi grade-loans di Amerika Serikat (AS).

China Investment Corp. juga mendukung emiten yang bergerak pada layanan kesehatan dan teknologi informasi. Bahkan, merambah Asia ketika kawasan tersebut masih diselimuti ketidakpastian mengenai Covid-19.

Menurutnya, saat ini China Investment Corp. sedang menyiapkan strategi investasi dengan mendiversifikasi portofolio. Rencana untuk meningkatkan investasi alternatif dan mengarahkan hingga 50 persen dari aset global pada akhir 2022 tetap tidak berubah.

Adapun investasi tersebut menyasar portofolio pribadi, yang mencakup real estate dan ekuitas swasta. Portofolio aset tersebut dinilai dapat menghindari China Investment Corp. dari masalah ketika arus kas melambat.

"Sebagai investor jangka panjang, kami ingin berinvestasi dalam pertumbuhan. Mengingat banyak kejutan eksternal, anda harus lebih fokus pada area yang lebih tangguh, strategi dan tema, dan menghindari area yang rapuh," katanya seperti dikutip Bloomberg, Senin (25/5/2020).

Menurutnya, berdasarkan laporam keuangan yang belum diauidit, investasi luar negeri China Investment Corp., memiliki tingkat pengembalian sekitar 17 persen pada tahun lalu ketika saham global menguat. Realisasi itu mendekati rekor kenaikan 17,6 persen pada 2017 dan membalikkan kerugian pada 2018 ketika ekuitas jatuh.

Pandemi dan jatuhnya pasar minyak global telah menyebabkan gangguan yang lebih serius pada dana kekayaan negara lain. Norwegia, misalnya, berencana untuk mengambil rekor 382 miliar kroner (US$ 38,2 miliar) dari dana kekayaannya, memaksa investor menjual aset mereka sehingga menghasilkan uang tunai.

Zhao mengakui China Invesment Corp. tidak memiliki kebutuhan pengeluaran tahunan yang besar. Namun, perusahaan berupaya menjaga likuiditas di awal tahun untuk mempertahankan posisinya sebagai investor jangka panjang.

Diakuinya, ivestasi memang kurang stabil di pasar negara berkembang. Zhao menyerukan lebih banyak kerja sama antar pemerintah dan memperingatkan pemerintah untuk tidak salah mengambil kebijakan. Hal itu seiring dengan meningkatnya ketegangan geopolitik dan masalah jangka panjang seperti beban utang.

"Krisis likuiditas mungkin sudah berakhir dan yang paling gelap mungkin ada di belakang kita. Tetali kita harus sangat berhati-hati untuk menghindari kembali masuk ICU," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

saham china
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top