Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Periode Suram Garuda (GIAA) Tak Terhindarkan, Mampukah Kinerja Kembali Terbang?

Dengan tidak beroperasinya sejumlah penerbangan domestik dan internasional, diperkirakan pendapatan perseroan akan turun signifikan.
Pesawat Airbus A330-900neo milik Garuda Indonesia di Hanggar 2 GMF AeroAsia, Rabu (27/11/2019) malam./Bisnis-Rio Sandy Pradana
Pesawat Airbus A330-900neo milik Garuda Indonesia di Hanggar 2 GMF AeroAsia, Rabu (27/11/2019) malam./Bisnis-Rio Sandy Pradana

Bisnis.com, JAKARTA – Tahun ini dipastikan akan menjadi periode yang suram untuk PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. seiring dengan penurunan pendapatan dan utang yang menumpuk di depan mata.

Analis PT Ciptadana Sekuritas Asia Fahressi Fahalmesta menyatakan bahwa kondisi Garuda Indonesia, tak dapat dipungkiri lagi berada dalam tekanan besar pada tahun ini. Penurunan aktivitas penerbangan akibat pandemi Covid-19 menjadi permasalahan utama bagi industri penerbangan di seluruh dunia.

“Garuda kan pastinya sebagai perusahaan airlines, dikarenakan adanya pandemi ini pasti dia jadi salah satu sector yang menjadi korban dari virus corona, dia kena hit langsung terhadap kinerja perusahaannya,” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (24/4/2020).

Dia menjelaskan pendapatan Garuda Indonesia, paling besar masih didominasi oleh penerbangan berjadwal, yang disusul oleh penerbangan tidak berjadwal seperti haji dan charter, serta pendapatan lainnya.

Dengan tidak beroperasinya sejumlah penerbangan domestik dan internasional, diperkirakan pendapatan perseroan akan turun signifikan. Belum lagi, melihat prospek di kuartal II yang semestinya menjadi periode positif bagi perseroan dalam menggenjot pendapatan.

Meski begitu, menurutnya potensi ditiadakannya penerbangan haji pada tahun ini karena pandemi Covid-19 tidak akan terlalu berdampak siginfikan bagi perseroan. Pasalnya, persentase pendapatan dari penerbangan haji hanya mencapai sekitar 5 persen.

Menurutnya, perseroan sejatinya juga memiliki kegiatan operasional bisnis yang begitu baik, bahkan tanpa pandemi sekalipun. Perseroan tercatat masih mengoperasikan sejumlah rute penerbangan yang dinilai tidak menguntungkan.

“Seperti penerbangan ke China, ke Jepang, itu sebenarnya Garuda rugi. Kadang akan lebih untung bagi Garuda kalau dia tidak terbang sekalian. Dari sisi operasionalnya, fuels expense-nya pasti besar.”

Persepsi pelaku pasar juga kian rendah terhadap Garuda Indonesia karena perseroan dihadapkan pada utang jangka pendek yang cukup besar, mencapai US$3,25 miliar per akhir 2019.

Utang ini, di antaranya terdiri dari pinjaman bank US$984,85 dan utang obligasi senilai US$489,99 juta.

Dalam kondisi ini, menurutnya Garuda memiliki opsi yang sangat terbatas untuk melunasi kewajibannya. Penerbitan saham baru ataupun surat utang baru, diperkirakan tidak akan mendapat respons baik dari investor. Pasalnya, utang baru ditarik bukan untuk kegiatan ekspansi, melainkan membayar utang.

Opsi yang paling mungkin untuk dilakukan saat ini adalah mencari kreditur baru, salah satunya dari pihak perbankan domestik maupun luar negeri. Dia mengatakan saat ini Garuda diketahui tengah mengupayakan skema tersebut.

“Perusahaan kemungkinan besar bisa restrukturisasi, akan dibantu bank-bank BUMN [Badan Usaha Milik Negara] dan bank-bank dari Middle East. Karena tidak mungkin dia bayar principles-nya lagi, harus ada yang mau ambil lagi utangnya Garuda,” katanya.

Kepercayaan investor yang kian rendah terhadap Garuda Indonesia, juga tercermin dari harga surat utang Garuda Indonesia Global Sukuk Limited yang telah menurun siginifikan. Surat utang ini akan jatuh tempo pada 3 Juni 2020.

“Harga bondsnya di sekitar 43 sen per satu dolarnya. Harga bondsnya sudah drops signifikan sekali. Sehingga, itu bisa menjadi sebuah sinyal bahwa investor ini sudah menurun kepercayaannya kepada Garuda juga,” katanya.

Investor juga kian menangkap sinyal negatif dari kegiatan bisnis Garuda Indonesia setelah perseroan menyatakan akan melakukan pemotongan gaji terhadap seluruh direksi, komisaris, dan karyawannya. Meski hanya bersifat penangguhan, menurutnya, hal ini menjadi sentimen negatif di mata investor.

Menurutnya, tidak hanya kondisi di tengah pandemi yang akan menjadi tantangan bagi perseroan. Setelah pandemi berlalu pun, masa depan Garuda Indonesia masih menjadi tanda tanya. Dia memperkirakan perbaikan ekonomi Indonesia tidak akan berjalan mulus.

“Setelah pandemi ini, bukan hanya aviasi saja sebenarnya, tapi seluruh industri, seharusnya recovery-nya tidak benar-benar ‘V’ shape, pasti butuh waktu. Tendensi orang bepergian, mungkin untuk sementara waktu tidak akan kembali seperti semula,” jelasnya.

Garuda Indonesia sedang mengajukan pinjaman kepada bank pelat merah dan bank dari Timur Tengah untuk melunasi pinjaman jangka pendek yang akan jatuh tempo pada tahun ini, termasuk surat utang senilai US$489,99 juta.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengkonfirmasi hal itu menjadi salah satu opsi yang sedang dijajaki perseroan. Meski begitu, dia menekankan belum ada plihan pasti yang telah diambil untuk melunasi utang tersebut.

“Tentu saja iya [pembicaraan dengan bank pelat merah dan bank dari Timur Tengah], itu salah satu opsi,” katanya kepada Bisnis, Minggu (26/4/2020).

Berdasarkan laporan keuangan 2019, perseroan tercatat memiliki total pinjaman jangka pendek senilai US$3,25 miliar. Irfan menegaskan perseroan masih membuka semua opsi yang tersedia untuk pelunasan utang-utang tersebut.

Dia juga masih enggan menyebutkan bank mana saja yang akan menjadi pemberi pinjaman tersebut serta berapa jumlah pinjaman yang akan ditarik.

“Belum final jadi belum bisa kami informasikan, nanti akan kami kabari. Masih rahasia.” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper