Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rupiah Kini Menguat, Tapi Sri Mulyani Masih Gamang. Kenapa Ya?

Nilai tukar rupiah sempat terkoreksi dan rebound kembali. Ini volatilitas yang tajam dan harus diwaspadai.
Menteri Keuangan Sri Mulyani menjawab pertanyaan wartawan usai melakukan pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan di Kantor DJP, Jakarta, Selasa (10/3/2020). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Menteri Keuangan Sri Mulyani menjawab pertanyaan wartawan usai melakukan pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan di Kantor DJP, Jakarta, Selasa (10/3/2020). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati memaparkan alasan di balik melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di tengah pandemi virus Corona (Covid-19).

Menurutnya, nilai tukar mata utang hampir di seluruh dunia terkenda dampak Covid-19. Namun, tingkat penurunan berbeda-beda untuk masing-masing negara.

"Ini berpengaruh ke Indonesia. Nilai tukar kita terkoreksi dan rebound kembali. Ini volatilitas yang tajam dan harus diwaspadai," katanya saat pemaparan APBN Kita, Jumat (17/4/2020).

Hal itu, tuturnya, turut berpengaruh pada imbal hasil (yield) surat utang, kaarena kembali mengalami kenaikan hingga 8 persen. Meskipun turun lagi di bawah 8 persen.

Menurutnya, volatilitas sangat tajam terjadi pada akhir Maret 2020. "Kami akan pantau secara hati-hati pada April-Mei, baik dari sisi perkembangan pasar uang di dalam dan luar negeri," ungkapnya.

Nilai tukar rupiah diperkirakan dapat kembali melemah terhadap dolar AS pada perdagangan Jumat (17/4/2020).

Nilai tukar rupiah berbalik melemah pada penutupan perdagangan Kamis (16/4/2020) seiring dengan kembali sentimen negatif di pasar keuangan akibat kontraksi data perekonomian Amerika Serikat.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah parkir di level Rp15.640 per dolar AS, terkoreksi 0,42 persen atau 65 poin pada Kamis. Pelemahan tersebut menjadi kinerja harian terburuk keempat tepat di bawah rupee yang melemah 0,56 persen, ringgit turun 0,88 persen, dan won yang terkoreksi 0,93 persen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper