Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Lelang Sukuk : Menguji Khasiat Jamu Racikan Bank Sentral

Lelang sukuk yang akan dibuka pekan depan diperkirakan akan memantik permintaan dari kalangan perbankan berkat kebijakan baru Bank Indonesia.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 16 April 2020  |  21:05 WIB
 Ilustrasi Sukuk Negara Ritel. - JIBI/Nurul Hidayat
Ilustrasi Sukuk Negara Ritel. - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com,JAKARTA — Khasiat dari sejumlah kebijakan Bank Indonesia yang diumumkan awal pekan ini akan diuji dalam menarik penawaran dalam lelang surat berharga syariah negara (SBSN) atau sukuk pada pekan depan.

Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan akan melelang enam seri SBSN akan dilelang pada, Selasa (21/4/2020). Pemerintah berharap bisa menghimpun Rp7 triliun dalam lelang tersebut.

Rencana Lelang SBSN 21 April 2020
Seri Surat Berharga Syariah NegaraTanggal Jatuh TempoImbalan
SPN-S 08102020 (reopening)8 Oktober 2020Diskonto
SPN-S 08012021 (reopening)8 Januari 2021Diskonto
PBS-002   (reopening)15 Januari 20225,45000%
PBS-026 (reopening)15 Oktober 20246,62500%
PBS-004 (reopening)15 Februari 20376,10000%
PBS-005 (reopening)15 April 20436,75000%
Sumber : Kemenkeu, diolah

Analis Mandiri Sekuritas Handy Yunianto menilai lelang sukuk pekan depan menarik untuk dicermati. Pasalnya, Bank Indonesia (BI) baru saja mengumumkan penurunan giro wajib minimum (GWM) yang dibarengi dengan kenaikan penyangga likuiditas makroprudensial (PLM).

“Jadi kemungkinan ada potensi peningkatan demand [sukuk] dari perbankan,” jelasnya kepada Bisnis, Kamis (16/4/2020).

Handy menyebut ada potensi kebijakan BI membuat total penawaran yang masuk dalam lelang sukuk akan meningkat. Selain faktor itu, secara valuasi yield atau imbal hasil menurutnya sangat menarik.

“Likuiditas rupiah juga cukup besar,” imbuhnya.

Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, jumlah penawaran masuk dalam lelang SBSN sempat menyentuh Rp14,60 triliun pada 24 Maret 2020. Nilai itu menjadi jumlah penawaran masuk terendah sepanjang periode lelang berjalan 2020.

Kendati demikian, jumlah penawaran yang masuk sedikit mengalami kenaikan pada 7 April 2020. Total penawaran yang masuk saat itu senilai Rp18 triliun.

Sepinya penawaran yang masuk tidak hanya terjadi pada lelang SBSN. Pasalnya, jumlah penawaran yang masuk ke lelang surat utang negara (SUN) juga semakin sepi.

Seperti diketahui, pemerintah kembali melaksanakan lelang tujuh seri SUN pada, Selasa (14/4/2020). Hasilnya, total penawaran yang masuk senilai Rp27,65 triliun.

Total penawaran itu kembali turun dari posisi Rp33,51 triliun pada 31 Maret 2020 dan sekaligus menjadi yang terendah pada 2020. 

Pada hari yang sama, BI mengumumkan hasil rapat dewan gubernur (RDG) pada 13 April 2020—14 April 2020. Hasilnya, bank sentral masih mempertahankan suku bunga acuan, 7-day (Reverse) Repo Rate, pada level 4,5 persen.

BI juga masih mempertahankan suku bunga deposit facility dan suku bunga lending facility masing-masing sebesar 3,75 persen dan 5,25 persen. Sebagai gantinya, bank sentral lebih memilih fokus kepada peningkatan quantitative easing (QE) dengan sejumlah kebijakan yang mulai berlaku pada 1 Mei 2020.

Sejak awal 2020, QE yang digelontorkan mencapai Rp300 triliun. QE menjadi cara bank sentral untuk memacu ketersediaan likuiditas guna merangsang ekonomi.

Sementara itu, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto memprediksi lelang belum bisa optimal seperti awal tahun. Menurutnya, pasar melihat pergerakan di secondary market untuk melihat seberapa besar likuiditas yang masuk ke pasar.

Kendati demikian, Ramdhan menilai kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah cukup efektif. Hal itu terbukti dari pergerakan yang relatif bertahan.

Untuk lelang sukuk pekan depan, dia memprediksi penawaran yang masuk sekitar Rp20 triliun. 

“Belum bisa berharap lebih banyak di tengah pasar seperti sekarang,” ujarnya.

Ramdhan menyebut kebijakan yang dikeluarkan oleh BI membuat instrumen surat berharga negara (SBN) menarik bagi perbankan. Dalam beberapa waktu terakhir, perbankan disebut banyak ke instrumen tersebut.

“Penyaluran kredit mestinya akan tersendat dan risiko juga naik. Sementara itu, SBN sangat terukur risikonya [sehingga banyak perbankan masuk],” tuturnya.

Di lain pihak, Economist PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri C. Permana memproyeksikan lelang sukuk pekan depan masih lebih sepi dari awal tahun. 

Dia memprediksi penawaran yang masuk berkisar antara Rp10 triliun—Rp15 triliun.

“Walau ada stimulus BI diperbolehkan masuk lelang primer namun dengan karakteristik sukuk tersendiri, ditambah dengan pandemi yang belum berakhir menjadi penyebab terhambatnya permintaan,” tukasnya.

Untuk diketahui, sejak menjadi Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo memperkenalkan lema “Jamu” baru untuk menyebut kebijakan-kebijakan bank sentral. Dus, dengan beragam varian jamu yang diperkenalkan, pelaku pasar surat utang  menantikan khasiat racikan Thamrin 2, alamat Kantor Pusat Bank Indonesia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi sukuk
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top