Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bursa AS 'Semringah' Sambut Perkembangan Rapid Test Corona

Indeks S&P 500 menanjak 0,77 persen ke 2.560,99, indeks Dow Jones menguat 0,29 persen ke 21.700,18 dan indeks Nasdaq naik 1,44 persen ke level 7.610,52.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 30 Maret 2020  |  21:31 WIB
Marka jalan di dekat New York Stock Exchange (NYSE) di Manhattan, New York City/REUTERS - Andrew Kelly
Marka jalan di dekat New York Stock Exchange (NYSE) di Manhattan, New York City/REUTERS - Andrew Kelly

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat bangkit ke zona hijau dan menguat pada awal perdagangan hari ini, Senin (30/3/2020), didorong secercah optimisme dalam upaya untuk melakukan uji cepat (rapid test) virus corona (Covid-19).

Berdasarkan data Bloomberg, indeks S&P 500 menanjak 0,77 persen atau 19,52 poin ke level 2.560,99 pada pukul 20.56 WIB atau 9.56 pagi waktu New York.

Sementara itu, indeks Dow Jones Industrial Average menguat 0,29 persen ke posisi 21.700,18 dan indeks Nasdaq Composite naik tajam 1,44 persen ke level 7.610,52.

Indeks S&P 500 naik untuk keempat kalinya dalam lima hari perdagangan meskipun diiringi dengan pemberitaan negatif soal pandemi corona selama akhir pekan, termasuk perintah Presiden Donald Trump untuk memperpanjang rekomendasi social distancing yang bertujuan menghambat penyebaran Covid-19.

Saham perawatan kesehatan berada di antara yang membukukan kenaikan terbesar menyusul lonjakan saham Abbott Laboratories setelah meluncurkan tes virus corona selama lima menit dan Johnson & Johnson mengumumkan vaksin potensial untuk virus mematikan tersebut.

Investor sebelumnya mengawali pekan ini dengan rencana Presiden Trump memperpanjang imbauan bagi warga Amerika untuk menjaga jarak sosial satu sama lain (social distancing) hingga 30 April.

Trump sebelumnya bermaksud mendorong banyak warga Amerika untuk kembali beraktivitas normal pada liburan Minggu Paskah, 12 April mendatang.

Kendati demikian, korban akibat infeksi virus corona (Covid-19) semakin bertambah. Pemerintahan Trump memperkirakan puncak kematian akibat pandemi corona di AS akan tercapai dalam sekitar dua pekan.

Direktur National Institute for Allergy and Infectious Disease Anthony Fauci pada Minggu (29/3/2020) mengatakan jutaan warga Amerika dapat terinfeksi virus tersebut dan angka kematian akibat di AS dapat mencapai 200.000 korban jiwa.

"Pasar masih dalam wilayah yang belum dipetakan. Ketika melihat tahap-tahap pandemi ini, tampak peningkatan. Epicenter telah bergeser ke AS,” ujar Medha Samant, direktur investasi di Fidelity International, seperti dilansir Bloomberg.

Sebagai langkah stimulus terkini oleh pemerintah negara-negara di dunia, People's Bank of China (PBOC) memangkas suku bunga 7-day repurchase rate menjadi 2,2 persen dari 2,4 persen. Jumlah pemangkasan ini merupakan yang terbesar sejak 2015.

PBOC juga menggelontorkan likuiditas hingga 50 miliar yuan (US$7,1 miliar) ke dalam sistem perbankan. Bank sentral China tersebut mengatakan langkah ini akan menjaga likuiditas yang cukup untuk membantu perekonomian riil.

Sementara itu, Perdana Menteri Australia Scott Morrison berjanji akan mengucurkan A$130 miliar (US$80 miliar) selama enam bulan untuk melindungi pekerjaan di tengah dampak wabah virus corona terhadap perekonomian Negeri Kanguru.

Di Singapura, Otoritas Moneter Singapura (Monetary Authority of Singapore/MAS) pada hari ini melonggarkan kebijakan moneternya dengan mengurangi slope kisaran nilai tukar mata uangnya menjadi nol yang dimulai dari level kurs efektif nominal dolar Singapura berlaku.

Namun, David Kotok, chief investment officer di Cumberland Advisors Inc., mengatakan bahwa segala asumsi kondisi ini akan berubah dalam jangka waktu pendek dan semuanya akan baik-baik saja adalah pendapat yang salah.

“Kita menunggu untuk melihat jadwal perawatan, pengujian, dan vaksin. Itu sangat penting bagi kita,” tambahnya.

Ketegangan menjelang akhir kuartal ini juga dapat menambah kegelisahan investor karena perusahaan-perusahaan finansial membatasi pinjaman agunan guna menopang neraca, sementara bank-bank Jepang menghadapi akhir tahun fiskal mereka.

Berbanding terbalik dengan bursa AS, indeks MSCI Asia Pacific melemah 0,9 persen. Adapun indeks Stoxx 600 Eropa naik 0,3 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa as wall street covid-19
Editor : Oktaviano DB Hana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top