Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Harga Minyak Terjun Ke Level US$24, Sampai Berapa Batas Bawahnya?

Pada perdagangan Rabu (18/3/2020) hingga pukul 20.03 WIB, harga minyak jenis WTI untuk kontrak April 2020 di bursa Nymex anjlok 9,91 persen ke level US$24,28 per barel.
Hafiyyan dan Finna U. Ulfah
Hafiyyan dan Finna U. Ulfah - Bisnis.com 18 Maret 2020  |  20:43 WIB
Anjungan lepas pantai. - Bloomberg
Anjungan lepas pantai. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah terjun ke level US$24 per barel seiring dengan rencana peningkatan produksi Rusia dan Arab Saudi di tengah melemahnya permintaan. Ini menjadi level terendah sejak Juni 2002.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Rabu (18/3/2020) hingga pukul 20.03 WIB, harga minyak jenis WTI untuk kontrak April 2020 di bursa Nymex anjlok 9,91 persen ke level US$24,28 per barel.

Sementara itu, harga minyak Brent untuk kontrak Mei 2020 di bursa ICE bergerak melemah 4,98 persen ke level US$27,3 per barel. Adapun, minyak mentah terakhir kali diperdagangkan di dekat level itu ketika sindrom pernapasan akut, atau pandemi SARS yang menghantam sebagian besar Asia.

Anjloknya harga minyak dipicu perang harga antara para negara produsen utama. Arab Saudi misalnya, berencana memproduksi 12,3 juta barel per hari dalam beberapa bulan mendatang.

Dalam sebuah pernyataan, Menteri Energi Arab Saudi sudah mengarahkan perusahaan minyak raksasanya, yakni Saudi Aramco untuk terus memasok minyak pada level tersebut.

Di sisi lain, permintaan minyak tengah melemah karena pembatasan aktivitas perjalanan di berbagai negara dunia. Hal itu dilakukan untuk mencegah penyebaran virus corona yang lebih luas.

Goldman Sachs Group Inc. mengatakan konsumsi minyak dapat turun 8 juta barel per hari dan memangkas perkiraan minyak Brent untuk kuartal kedua menjadi ke level US$20 per barel. Standard Chartered Plc pun memprediksikan harga minyak akan jatuh lebih dalam dari US$20 per barel pada kuartal berikutnya.

Ahli Strategi Pasar Asia Pasifik AxiCorp Stephen Innes mengatakan bahwa situasi saat ini belum mencapai puncaknya sehingga mungkin akan bergerak lebih buruk lagi.

“Harga minyak akan turun menjadi US$18-20 per barel, jika kasus Covid-19 meningkat secara eksponensial, terutama di AS, itu akan membuat para pedagang minyak ketakutan," ujar Stephen seperti dikutip dari Bloomberg.

Adapun, penurunan permintaan itu bertepatan dengan membanjirnya pasokan karena Arab Saudi dan Rusia terlibat dalam perang harga. Mizuho Securities Llc. memperingatkan harga minyak mentah bisa menjadi negatif jika pertengkaran dua negara itu akan membanjiri pasar dengan pasokan.

Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan saat ini harga minyak mentah sudah mendekati bawah US$24 per barel. Ada kemungkinan harga akan kembali terjun bebas.

“Ada kemungkinan harga menuju US$19 per barel,” ujarnya saat dihubungi Bisnis.com, Rabu (18/3/2020).

Menurutnya, level support dan resistan WTI saat ini adalah US$22 - US$25 per barel. Jika level itu tertembus, maka support dan resistan akan berada di kisaran US$20 - US$24 per barel.

Disinggung soal sentimen yang dapat membuat harga minyak berbalik menguat, Ibrahim menyampaikan sampai saat ini belum ada faktor positif yang dapat mendorong peningkatan minyak. Pasalnya, permintaan komoditas utama tersebut terus menurun setelah penyebaran corona di 165 negara.

"Sampai saat ini, sentimen positif [untuk harga minyak] belum ada karena permintaan terus menurun," imbuhnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak opec harga minyak mentah wti
Editor : Hafiyyan
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top