Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

IHSG Terperosok ke 5.539, Finansial Pimpin Pelemahan Seluruh Sektor

Stimulus yang digelontorkan pemerintah ke berbagai sektor yang terdampak wabah virus corona (Covid-19) belum mampu menghentikan IHSG terperosok jauh ke bawah level 5.600 pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Kamis (27/2/2020).
Karyawan melintas didekat layar monitor perdagangan Indeks Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (17/2/2020). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Karyawan melintas didekat layar monitor perdagangan Indeks Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (17/2/2020). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA – Stimulus yang digelontorkan pemerintah ke berbagai sektor yang terdampak wabah virus corona (Covid-19) belum mampu menghentikan IHSG terperosok jauh ke bawah level 5.600 pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Kamis (27/2/2020).

Berdasarkan data Bloomberg, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) parkir di level 5.539,38 dengan penurunan tajam 149,54 poin atau 2,63 persen pada akhir sesi I dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Rabu (26/2/2020), IHSG mengakhiri pergerakannya di level 5.688,92 dengan kemerosotan 1,70 persen atau 98,22 poin, penurunan hari keempat berturut-turut sejak perdagangan 21 Februari.

Indeks mulai melanjutkan pelemahannya pada Kamis (27/2) pagi dengan dibuka terkoreksi 0,15 persen atau 8,48 poin di posisi 5.680,44. Sepanjang perdagangan sesi I, IHSG bergerak di level 5.538,68 – 5.684,29.

Seluruh 9 sektor menetap di wilayah negatif pada akhir sesi I, dipimpin finansial (-3,99 persen), industri dasar (-2,94 persen), dan pertanian (-2,70 persen).

Dari 682 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia, 62 saham menguat, 330 saham melemah, dan 290 saham stagnan.

Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang masing-masing turun 7,81 persen dan 3,35 persen menjadi penekan utama pelemahan IHSG pada akhir sesi I.

Keputusan pemerintah mengalokasikan anggaran Rp10,3 triliun untuk stimulus menghadapi dampak ekonomi virus corona dinilai belum berhasil mendorong IHSG.

Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji mengatakan pemerintah sebaiknya memberikan stimulus yang dapat menggenjot pertumbuhan konsumsi dan sejumlah sektor yang memiliki potensi besar. Ia mencontohkan industri manufaktur dan pariwisata perlu menjadi perhatian pemerintah untuk mendapatkan insentif.

“Sektor-sektor ini nantinya akan membantu kemampuan pemerintah dalam berekspansi,” ujarnya.

Di sisi lain, ada pula yang berpendapat langkah stimulus yang dilancarkan pemerintah sudah berada di jalur yang tepat. Namun, dampak pemberian stimulus terhadap kinerja pasar modal belum akan terlihat dalam waktu dekat.

Menurut Analis BNI Sekuritas William Siregar, paket insentif senilai Rp10,3 triliun untuk mendongkrak ekonomi domestik dinilai tepat karena menjadi langkah antisipasi dari merebaknya wabah virus corona atau Covid-19.

William mengatakan insentif ini seharusnya dapat membantu meredakan dampak sistemik dari wabah corona. Dengan demikian, akan memberikan dampak positif bagi lini usaha karena dapat mengantisipasi penurunan risiko ekonomi.

"Hanya saja memang butuh waktu untuk melihat dampaknya secara langsung pada pergerakan indeks. Pelaku pasar harus bersabar sambil mengamati kemungkinan yang ada," terang William, saat dihubungi Bisnis (Rabu, 26/2/2020).

Di pasar spot, nilai tukar rupiah terpantau lanjut melemah 45 poin atau 0,32 persen ke level Rp13.985 per dolar AS pukul 12.01 WIB, menuju pelemahan hari ke-8 sejak perdagangan 18 Februari.

Dilansir dari Bloomberg, rupiah melemah untuk hari ke-8 terhadap dolar AS, rangkaian penurunan beruntun terpanjang sejak September 2017, karena investor asing menarik aliran uang mereka dari obligasi dan saham di Indonesia di tengah penyebaran virus corona.

“Tekanan pada mata uang bertahan karena sentimen penghindaran aset berisiko secara global,” ujar Irene Cheung, ahli strategi valas di ANZ, Singapura.

Menurut data terbaru World Health Organization (WHO), virus corona telah menewaskan lebih dari 2.700 orang dan menginfeksi setidaknya 80.000 orang di seluruh dunia. Sementara itu, semakin banyak negara yang mengonfirmasikan kasus virus corona.

Penyebaran virus corona yang meluas diyakini akan melukai pertumbuhan ekonomi global sehingga investor semakin menjauhkan diri dari aset-aset berisiko seperti saham.

Seiring dengan pergerakan IHSG, indeks Bisnis-27 terjerembab 3,29 persen atau 16,94 poin ke level 498,67, sedangkan indeks saham syariah Jakarta Islamic Index anjlok 2 persen atau 11,86 poin ke posisi 581,74 pada akhir sesi I.

Di negara lainnya di Asia, indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang masing-masing ikut anjlok 2,72 persen dan 2,48 persen, indeks Taiex Taiwan melorot 1,26 persen, dan Kospi Korea Selatan melemah 0,91 persen.

Adapun indeks Hang Seng Hong Kong melemah 0,75 persen pada pukul 12.16 WIB. Meski demikian, indeks Shanghai Composite dan CSI 300 China masing-masing mampu menanjak 0,60 persen dan 0,84 persen.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Rivki Maulana
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper