Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Dolar AS Naik, Rupiah Melemah Tipis Pagi Ini

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berlanjut pada perdagangan pagi ini, Jumat (14/2/2020), di tengah penguatan indeks dolar AS.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 14 Februari 2020  |  08:59 WIB
Karyawan merapikan uang di cash center Bank BNI, Jakarta, Selasa (11/2/2020). Bisnis - Himawan L Nugraha
Karyawan merapikan uang di cash center Bank BNI, Jakarta, Selasa (11/2/2020). Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berlanjut pada perdagangan pagi ini, Jumat (14/2/2020), di tengah penguatan indeks dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, pergerakan nilai tukar rupiah di pasar spot dibuka terdepresiasi tipis 1 poin atau 0,01 persen di level Rp13.695 per dolar AS.

Pelemahannya kemudian bertambah menjadi 13 poin atau 0,09 persen ke level Rp13.707 per dolar AS pada pukul 08.18 WIB dari level penutupan sebelumnya.

Pada perdagangan Kamis (13/2/2020), pergerakan kurs rupiah berakhir di level Rp13.694 per dolar AS dengan pelemahan 20 poin atau 0,15 persen, setelah mampu terapresiasi dua hari berturut-turut sebelumnya.

Dilansir Bloomberg, pergerakan rupiah dipengaruhi oleh laporan lonjakan jumlah kasus baru terinfeksi virus corona Covid-19 di provinsi Hubei, China, setelah pihak otoritas merevisi metodologi diagnostik penghitungan jumlah kasus terinfeksi.

Meski demikian, menurut Kepala Strategi Makro Asia di Westpac, Frances Cheung, nilai tukar rupiah akan tetap tangguh, dengan minat beli pada obligasi lokal dan sikap BI yang pre-emptive dalam mendukung pasar.

“Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kemungkinan akan bergerak di kisaran level saat ini dalam jangka waktu dekat,” ujar Cheung.

Sementara itu, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo mengatakan pihaknya masih mengukur dampak penyebaran virus Corona dari China terhadap perekonomian Indonesia.

"Saya belum bisa mengatakan itu [virus Corona] berpengaruh besar ke Indonesia. Kami mengindikasikan kejadian ini akan pulih dalam waktu paling cepat tiga bulan," seusai konferensi pers Tim Pengendali Inflasi Pusat (TPIP) di Kantor Kemenko Perekonomian, Kamis (13/2/2020).

Menurutnya, BI dan pemerintah masih fokus untuk menjaga situasi perekonomian nasional. Salah satu langkahnya yaitu dengan menjaga stabilitas harga melalui kebijakan impor yang terbuka.

Dia menilai pemerintah juga telah melakukan berbagai cara untuk mengantisipasi masuknya virus corona ke Indonesia.

"Dampak ke pasar keuangan tidak terlalu besar, [nilai tukar] rupiah tetap stabil. Jadi, jangan dilihat ini sebagai salah satu risiko yang permanen. Masih terlampau singkat jika menjadikan ini [virus Corona] sebagai salah satu skenario pelemahan ekonomi," ucapnya.

Seiring dengan pergerakan rupiah pada Jumat (14/2) pagi ini, mata uang lainnya di Asia bergerak cenderung variatif. Ringgit Malaysia dan dolar Singapura masing-masing melemah tipis 0,08 persen dan 0,07 persen, sedangkan peso Filipina menguat tipis 0,09 persen terhadap dolar AS pukul 08.19 WIB.

Adapun indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama, tampak lanjut naik 0,04 persen atau 0,042 poin ke level 99,109, setelah berakhir di level 99,067 dengan kenaikan 0,02 persen atau 0,018 poin pada Kamis (13/2/2020).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Gonjang Ganjing Rupiah dolar as virus corona
Editor : M. Taufikul Basari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top