Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Rusia Diharapkan Setuju Pangkas Produksi, Harga Minyak WTI Naik

Harga minyak mentah di bursa berjangka New York mampu naik pada perdagangan hari kedua berturut-turut, Kamis (6/2/2020), didorong harapan bahwa OPEC dan aliansinya akan membatasi produksi minyak lebih lanjut
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 07 Februari 2020  |  05:36 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah di bursa berjangka New York mampu naik pada perdagangan hari kedua berturut-turut, Kamis (6/2/2020), didorong harapan bahwa OPEC dan aliansinya akan membatasi produksi minyak lebih lanjut akibat dampak wabah virus corona (coronavirus) terhadap permintaan energi global.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Maret 2020 berakhir naik 0,4 persen atau 20 sen di level US$50,95 per barel di New York Mercantile Exchange, setelah sempat melonjak 2.9 persen.

Meski demikian, harga minyak Brent untuk kontrak April 2020 ditutup turun 35 sen di level US$54,93 per barel di ICE Futures Europe Exchange.

Dilansir Bloomberg, harga minyak WTI menguat setelah panel pakar teknis dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan aliansinya (OPEC+) merekomendasikan pemangkasan produksi tambahan sebesar 600.000 barel per hari.

Namun pihak Rusia tetap tidak berkomitmen dan meminta lebih banyak waktu untuk memutuskan.

"Ada sedikit harapan OPEC akan mendukung pasar,” ujar Michael Loewen, direktur strategi komoditas di Scotiabank.

"Bahkan sebelum virus [corona], pemangkasan produksi OPEC sebelumnya masih membuat pasar kelebihan pasokan dan Rusia enggan berpegang teguh pada hal ini, sehingga juga memberikan keraguan atas apa yang mereka hendak lakukan,” tambahnya.

Harga minyak telah melorot sekitar 17 persen tahun ini karena penyebaran virus corona telah mengganggu perjalanan dan konsumsi bahan bakar, sekaligus menghapus sekitar 20 persen konsumsi minyak di China, mesin utama permintaan minyak mentah.

Wabah ini telah mendorong perusahaan minyak negara Arab Saudi, eksportir minyak terbesar di dunia, untuk melakukan pengurangan harga minyak mentah yang dijualnya ke Asia.

Turut membebani keputusan OPEC adalah blokade pelabuhan di Libya yang telah menghambat ekspor minyak. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akan mengadakan konferensi di Kairo pada Minggu (9/2) untuk membahas produksi minyak Libya ketika pihak-pihak yang bertikai di negara itu berupaya mengubah gencatan senjata sementara menjadi perjanjian formal.

"Kemampuan OPEC untuk memangkas produksi sangat terbatas," kata Ryan Fitzmaurice, ahli strategi komoditas di Rabobank. "Coronavirus masih menjadi perhatian utama, tetapi mereka juga menyeimbangkan risiko sisi pasokan di Libya.”

Produksi minyak Libya telah jatuh ke level terendah sejak pemberontakan yang didukung NATO terhadap Muammar Gaddafi. Faksi-faksi yang bertikai menghadiri pertemuan internasional di Berlin bulan lalu di tengah gencatan senjata sementara.

Pergerakan minyak mentah WTI kontrak Maret 2020

Tanggal

Harga (US$/barel)

Perubahan

6/2/2020

50,95

+0,20 poin

5/2/2020

50,75

+1,14 poin

4/2/2020

49,61

-0,50 poin

Pergerakan minyak mentah Brent kontrak April 2020

Tanggal

Harga (US$/barel)

Perubahan

6/2/2020

54,93

-0,35 poin

5/2/2020

55,28

+1,32 poin

4/2/2020

53,96

-0,49 poin

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak virus corona
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top