IHSG & Rupiah Kompak Menguat 2 Hari Beruntun

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil memperpanjang penguatannya bahkan mengakhiri pergerakannya naik nyaris 1 persen pada perdagangan hari ini, Rabu (5/2/2020).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 05 Februari 2020  |  16:36 WIB
IHSG & Rupiah Kompak Menguat 2 Hari Beruntun
Pengunjung beraktivitas di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di galeri PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (4/2/2020). - ANTARA / Reno Esnir

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil memperpanjang penguatannya bahkan mengakhiri pergerakannya naik nyaris 1 persen pada perdagangan hari ini, Rabu (5/2/2020).

Berdasarkan data Bloomberg, pergerakan IHSG ditutup di level 5.978,51 dengan penguatan 0,95 persen atau 56,17 poin dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Selasa (4/2/2020), IHSG rebound ke zona hijau dan berakhir di level 5.922,34 dengan kenaikan 0,65 persen atau 38,17 poin, mematahkan rentetan koreksi tiga hari perdagangan berturut-turut sebelumnya.

Penguatan indeks mulai berlanjut dengan dibuka naik 0,56 persen atau 33,18 poin di posisi 5.955,52 pada Rabu (5/2) pagi. Penguatan yang dibukukan pada akhir perdagangan hari ini adalah yang terbesar sejak menguat 2 persen pada 2 Desember 2019.

Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak di level 5.924,37 – 5.978,51.

Sebanyak tujuh dari sembilan sektor berakhir di wilayah positif, dipimpin pertanian (+3,87 persen) dan industri dasar (+2,29 persen). Adapun sektor aneka industri dan perdagangan masing-masing terkoreksi 0,16 persen dan 0,05 persen.

Sementara itu, dari 676 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, sebanyak 224 saham menguat, 172 saham melemah, dan 280 saham stagnan.

Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) yang masing-masing naik 1,97 persen dan 8,40 persen menjadi pendorong utama IHSG.

IHSG berhasil melanjutkan penguatannya pada perdagangan hari kedua meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat melambat pada tahun 2019 dibandingkan tahun sebelumnya.

Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tercatat hanya tumbuh 5,02 persen sepanjang tahun 2019, cukup jauh di bawah pencapaian tahun sebelumnya, yang tercatat sebesar 5,17 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menyampaikan pada kuartal IV/2019, pertumbuhan ekonomi Indonesia naik 4,97 persen dibandingkan kuartal IV/2018. Sementara itu, dibandingkan kuartal III/2019, pencapaiannya terkontraksi 1,74 persen.

"Mempertahankan [pertumbuhan] 5 persen di situasi sekarang adalah tidak gampang. [Pertumbuhan] 5,02 persen di situasi yang menunjukkan pelemahan, ini cukup baik," paparnya dalam konferensi pers di kantor BPS, Jakarta, Rabu (5/2/2020).

Mengacu kepada data BPS, realisasi ini menjadi yang terendah sejak 2015, ketika angkanya hanya naik 4,88 persen. Realisasi ini juga tidak memenuhi target pemerintah yang sebesar 5,3 persen maupun proyeksi Bank Indonesia (BI), yang sebesar 5,1-5,5 persen.

Bagaimana pun, realisasi tersebut membuka pintu untuk langkah pemangkasan suku bunga lebih lanjut oleh Bank Indonesia seiring dengan meningkatnya risiko dampak wabah virus corona (coronavirus) jenis baru yang telah meluas.

“Kami terus mempertahankan pandangan kami bahwa permintaan domestik telah lemah, dan kami melihat sedikit dorongan untuknya berbalik,” ujar Mohamed Faiz Nagutha, ekonom di Bank of America Securities, Singapura, dikutip dari Bloomberg.

“Oleh karenanya, dukungan kebijakan baik dari sisi fiskal maupun moneter tetap sesuai diterapkan,” tambahnya. Dia memperkirakan BI akan memangkas suku bunga acuan sebesar 50 basis poin tahun ini.

Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 22-23 Januari, BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (DRRR) di 5 persen. Adapun sepanjang 2019, BI melakukan pemangkasan sebanyak empat kali.

Pada Rabu (5/2), Gubernur BI Perry Warjiyo berjanji untuk mempertahankan sikap akomodatif tahun ini dan mengatakan bahwa langkah pelonggaran tidak akan terbatas pada menurunkan suku bunga acuan.

Sejalan dengan IHSG, nilai tukar rupiah berhasil menghimpun kembali tenaganya dan ditutup menguat 25 poin atau 0,18 persen di level Rp13.690 per dolar AS, setelah rebound dan berakhir terapresiasi 27 poin atau 0,20 persen di posisi Rp13.715 pada Selasa (4/2).

Rata-rata indeks saham di Asia juga berakhir di wilayah positif. Indeks Nikkei 225 dan Topix Jepang menguat 1,02 persen dan 1,04 persen masing-masing. Adapun indeks Kospi Korea Selatan naik tajam 0,36 persen dan indeks Hang Seng Hong Kong menguat 0,42 persen.

Di China, indeks saham Shanghai Composite dan CSI 300 pun berakhir naik tajam 1,25 persen dam 1,13 persen. Pada perdagangan Selasa (4/2), bursa saham China bangkit dari aksi jual brutalnya dan menguat.

Secara keseluruhan, bursa saham Asia mampu memperpanjang kenaikan saat investor mencermati perkembangan soal laporan laba korporasi dan kabar virus corona (coronavirus) yang mewabah di China.

Sementara itu, obligasi Treasury AS meningkat di seluruh kurva imbal hasil dan dolar AS menguat terhadap sejumlah mata uang utama setelah bank-bank sentral semakin mengisyaratkan kesediaan untuk mengambil tindakan jika wabah virus tersebut melemahkan permintaan konsumen, inflasi, dan pasar keuangan.

Saham-saham pendorong IHSG:

Kode

Kenaikan (persen)

BBCA  

+1,97

CPIN

+8,40

UNVR

+2,86

BMRI

+2,33

Saham-saham penekan IHSG:

Kode

Penurunan (persen)

HMSP

-1,45

EMTK

-8,62

MEGA

-6,02

ICBP

-0,86

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Gonjang Ganjing Rupiah

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top