Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Proyeksi 2020: Harga Emas Moncer, Nikel Tertekan

Harga emas akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap pelemahan ekonomi akibat wabah virus corona China.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 03 Februari 2020  |  06:39 WIB
Suasana lokasi yang dicanangkan untuk pembangunan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Desa Bukit Batu, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, Kamis (4/4/2019). - ANTARA/Jessica Helena Wuysang
Suasana lokasi yang dicanangkan untuk pembangunan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Desa Bukit Batu, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, Kamis (4/4/2019). - ANTARA/Jessica Helena Wuysang

Bisnis.com, JAKARTA - Harga emas diyakini masih akan melanjutkan penguatannya dalam jangka pendek didukung oleh meningkatnya permintaan investor terhadap investasi aman. Kendati demikian, permintaan yang cenderung tidak bergerak akan menahan penguatan harga nikel.

Analis Ciptadana Sekuritas Asia Thomas Radityo mengatakan dalam publikasi risetnya bahwa harga emas akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap pelemahan ekonomi akibat wabah virus corona China.

Selain itu, investor yang menyadari bahwa kesepakatan perdagangan yang ditandatangani antara AS dan China pada pertengahan Januari belum benar-benar akan menyelesaikan masalah yang lebih dalam antara kedua negara.

“Akibatnya, investor pun khawatir ketegangan dapat meningkat kapan saja dan itu akan semakin mendorong naik harga emas,” ujar Thomas seperti dikutip dari publikasi risetnya, Minggu (2/2/2020).

Mengikuti asumsi ekonom Ciptadana bahwa The Fed akan memangkas suku bunga acuannya lebih lanjut, sebesar 50 basis poin pada tahun ini, Thomas yakin hal itu juga akan mendorong permintaan aset investasi aman seperti emas,

Oleh karena itu, Thomas pun merevisi perkiraan harga emas tahun ini menjadi 1,4 persen lebih tinggi daripada perkiraan sebelumnya, yaitu emas akan bergerak di kisaran US$1.420 per troy ounce hingga US$1.450 per troy ounce.

Adapun, pada penutupan perdagangan Jumat (31/1/2020) harga emas di pasar spot berada di level US$1.589,15 per troy ounce, naik 0,94 persen, sedangkan harga emas berjangka kontrak April 2020 di bursa Comex berada di level US$1.587,9 per troy ounce, melemah tipis 0,08 persen.

Sementara itu, Thomas merivisi perkiraan harga nikelnya pada tahun ini menjadi 3,2 persen hingga 3,5 persen lebih rendah daripada perkiraan sebelumnya, yaitu bergerak di kisaran US$15.000 per ton hingga US$16.000 per ton.

Hal tersebut dikarenakan jumlah permintaan yang hampir tidak bergerak pada kuartal pertama tahun lalu dan inventaris nikel di bursa LME yang terus menunjukkan peningkatan seiring dengan penambang Indonesia yang menjual bijih nikel secara massal sebelum larangan ekspor bijih nikel Indonesia berlaku.

Adapun, hingga akhir Januari, persediaan nikel di bursa LME telah meningkat sebesar 23 persen menjadi 192.000 wet metrik ton.

Selain itu, dari sisi permintaan tahun ini, banyak pabrik baja China, sebagai negara konsumen logam terbesar dunia, tengah menjalani perawatan. Hal itu pun diperparah oleh ketidakpastian yang disebabkan oleh wabah virus corona yang menyebabkan permintaan untuk turun.

Thomas mengatakan bahwa sentimen itulah yang menunda dampak larangan Indonesia terhadap ekspor bijih nikel sampai sekitar paruh pertama tahun ini, sehingga harga akan tetap tertekan.

Padahal, Thomas memperkirakan nikel akan dihadapi defisit pasokan lebih lanjut pada 2020 dan 2021, masing-masing sebesar 25.000 ton dan 44.000 ton.

Pada penutupan perdagangan Jumat (31/1/2020), harga nikel di bursa London berada di level US$12.777,5 per ton, menguat 1,47 persen.

Di sisi lain, bersamaan dengan proyeksi pergerakan harga dua komoditas logam tersebut, Thomas masih merekomendasikan beli untuk beberapa saham tambang logam, seperti ANTM (PT Aneka Tambang Tbk.), MDKA (PT Merdeka Copper Gold Tbk.), INCO (PT Vale Indonesia Tbk.), dan TINS (PT Timah Tbk.).

Thomas mengatakan bahwa pihaknya tetap optimis pada ANTM mengingat kinerja operasional yang solid, industri yang menarik dan prospek pendapatan.

“Kami mempertahankan peringkat BELI kami pada ANTM karena masih menawarkan potensi kenaikan yang menarik (46,7 persen) untuk TP berbasis 2020-DCF kami sebesar Rp1.100 per saham,” papar Thomas.

Saat ini ANTM diperdagangkan pada 0,86x terhadap proyeksi PBV 2020, sesuai dengan penilaian rata-rata.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

emas Nikel
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top