Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Rupiah Berpotensi Melemah Terpapar Virus Corona

Kepala Riset dan Edukasi PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan bahwa pasar perlu berhati-hati karena kekhawatiran penyebaran virus corona yang meningkat dapat melemahkan rupiah karena kecenderungan investor untuk keluar dari aset berisiko.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 26 Januari 2020  |  17:59 WIB
Nasabah menghitung uang di sebuah Money Changer, di Jakarta, Rabu (12/6/2019). - Bisnis/Himawan L. Nugraha
Nasabah menghitung uang di sebuah Money Changer, di Jakarta, Rabu (12/6/2019). - Bisnis/Himawan L. Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA – Kurs rupiah berpotensi melemah pada perdagangan pekan depan seiring dengan meluasnya penyebaran virus corona yang dapat meningkatkan minat investor terhadap aset investasi aman.

Kepala Riset dan Edukasi PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan bahwa pasar perlu berhati-hati karena kekhawatiran penyebaran virus corona yang meningkat dapat melemahkan rupiah karena kecenderungan investor untuk keluar dari aset berisiko.

Tidak hanya China, penyebaran virus corona kini telah meluas ke beberapa negara seperti Amerika Serikat, Thailand, Korea Selatan, Jepang ,Australia, Prancis, dan Kanada. Jumlah korban jiwa dari virus tersebut pun semakin bertambah. Pemerintah China mengkonfirmasi pada Minggu (26/1/2020) virus corona telah menewaskan 56 orang.

“Potensi pergerakan rupiah sepanjang pekan depan berada di kisaran Rp13.500 per dolar AS hingga Rp13.670 per dolar AS,” ujar Ariston kepada Bisnis, Minggu (26/1/2020).

Namun demikian, tingkat imbal hasil obligasi AS masih bergerak di level rendah sehingga dapat mendorong penguatan nilai tukar pasar berkembang melawan dolar AS, termasuk rupiah. Bank Sentral AS pun sudah mengindikasikan bahwa kebijakan moneternya akan tetap longgar.

Selain itu sejak September 2019, Bank sentral AS telah menyuntikan dana sebesar US$500 miliar ke pasar uang dalam bentuk repo untuk menstabilkan likuiditas di AS dengan menekan suku bunga pinjaman antar bank. Hal tersebut pun dapat menekan tingkat imbal hasil obligasi AS dan melemahkan dolar AS.

Ariston mengatakan bahwa penyebab utama rupiah mampu bergerak di bawah kisaran Rp13.600 per dolar AS dalam beberapa perdagangan terakhir adalah sentimen tersebut. Adapun, pada perdagangan Jumat (26/1/2020) rupiah ditutup di level Rp13.582 per dolar AS, menguat 0,41 persen atau 56 poin.

Level tersebut pun menjadi level terkuat rupiah sejak Februari 2018, dan mata uang Garuda membukukan kinerja penguatan selama delapan pekan berturut-turut. Sepanjang tahun berjalan 2020, rupiah telah menguat 2,29 persen terhadap dolar AS, menjadi mata uang dengan kinerja terkuat di Asia.

Di sisi lain, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang utama bergerak menguat 0,16 persen menjadi 97,853.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Gonjang Ganjing Rupiah virus corona
Editor : M. Taufikul Basari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top