Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pasar Dinilai Jenuh, Frekuensi Penerbitan Sukuk Ritel Dikurangi

Menurut Direktur Pembiayaan Syariah Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Dwi irianti, pada tahun ini pihaknya hanya akan melakukan penerbitan sukuk ritel sebanyak tiga kali. Ketiganya meliputi penerbitan satu sukuk ritel (SR) dan dua sukuk tabungan (ST).
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 26 Januari 2020  |  13:47 WIB
 Ilustrasi Sukuk Negara Ritel. - JIBI/Nurul Hidayat
Ilustrasi Sukuk Negara Ritel. - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Keuangan memutuskan untuk mengurangi frekuensi penerbitan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk ritel menjadi tiga kali guna menghindari kejenuhan terhadap produk ini.

Menurut Direktur Pembiayaan Syariah Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Dwi irianti, pada tahun ini pihaknya hanya akan melakukan penerbitan sukuk ritel sebanyak tiga kali. Ketiganya meliputi penerbitan satu sukuk ritel (SR) dan dua sukuk tabungan (ST).

Frekuensi penerbitan ini berkurang dua kali bila dibandingkan tahun lalu. Pada 2019, pemerintah menerbitkan sukuk ritel satu kali dan sukuk tabungan hingga empat kali.

Ia menjelaskan, penurunan jumlah lelang dilakukan berdasarkan evaluasi pada tahun lalu. Berkaca dari hasil tahun lalu, mendekati akhir tahun hasil penjualan instrumen investasi ritel yang ditawarkan mengalami penurunan.

“Penurunan ini bisa disebabkan dua faktor, yaitu penurunan imbal hasil (yield) seiring dengan turunnya suku bunga acuan, atau kejenuhan di pasar. Kami mengurangi frekuensi penerbitan untuk mengantisipasinya,” jelasnya saat ditemui di Kantor Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Jakarta pada pekan ini.

Selain itu, pihaknya juga memperkirakan sistem pembelian yang kini sudah online turut berkontribusi atas penurunan angka penjualan. Hal tersebut, katanya, terlihat dari perolehan penjualan ORI016 yang ditawarkan secara online hanya meraup Rp 8,21 triliun dari penjualan seri sebelumnya yang mencapai Rp23,37 triliun.

Dwi melanjutkan, hal tersebut membuat pihaknya memperkirakan akan terjadi penurunan penjualan sukuk ritel pada tahun ini. Apalagi, penawaran sukuk ritel pada tahun ini juga akan menggunakan sistem online.

“Para investor masih ingin dilayani saat membeli. Bila menggunakan sistem online, mereka harus melakukan proses pembelian ini secara mandiri,” terang Dwi.

Data dari Kantor Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko mencatat, total penawaran empat sukuk tabungan dan satu sukuk ritel sepanjang 2019 mencapai Rp 30,03 triliun. Penawaran terbesar terjadi saat lelang SR seri SR-011 pada Maret sebesar Rp 21 triliun dengan imbal hasil 8,05 persen per tahun.

Sementara itu, besaran penawaran untuk ST003 sebesar Rp3,13 triliun dengan imbal hasil 8,15 persen, ST004 menghasilkan Rp 2,49 triliun dengan imbal hasil 7,95 persen, ST005 dengan imbal hasil 7,4 persen mencatat penawaran sebesar Rp1,96 triliun dan SR006 memperoleh penawaran sebesar Rp 1,45 triliun dengan yield 6,75 persen.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sukuk sukuk ritel
Editor : M. Taufikul Basari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top