Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Fenomena Auto Reject Saham Emiten Baru Terjadi Lagi, Apakah Wajar?

Fenomena auto reject atas (ARA) terhadap saham-saham emiten yang baru melantai di Bursa Efek Indonesia kembali terjadi. Apa faktor yang mendorongnya?
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 15 Januari 2020  |  18:53 WIB
Pengunjung beraktivitas di dekat papan pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (2/7/2019). - Bisnis/Triawanda Tirta Aditya
Pengunjung beraktivitas di dekat papan pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (2/7/2019). - Bisnis/Triawanda Tirta Aditya

Bisnis.com, JAKARTA – Fenomena auto reject atas (ARA) terhadap saham-saham emiten yang baru melantai di Bursa Efek Indonesia kembali terjadi. Apa faktor yang mendorong terjadinya kenaikan harga saham yang signifikan terhadap saham-saham emiten anyar?

Sistem auto rejection atas pergerakan harga saham di BEI diatur dengan batasan maksimal naik dan turun dalam sehari dengan besaran berbeda.

Pergerakan 35% bagi saham yang memiliki rentang harga Rp50 – Rp200, 25% bagi saham antara Rp200 – Rp5.000, dan 20% bagi saham di atas Rp5.000.

Adapun, untuk perdagangan perdana saham yang baru dicatatkan atau IPO, berlaku dua kali lipatnya, masing-masing 70% untuk Rp50 – Rp200, 50% untuk Rp200 – Rp5.000, dan 40% untuk di atas Rp5.000.

Kepala Riset Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi mengatakan saham yang melakukan pencatatan memang berpotensi mengalami ARA. Pasalnya, pada masa initial public offering (IPO) saham itu dihargai lebih murah secara fundamental.

Lanjar pun menepis bila emiten-emiten anyar itu langsung dikategorikan sebagai saham gorengan.

“Saham yang baru IPO itu murah, wajar kalau ARA. Indikatornya adalah harga saham ada di bawah 2 kali dari book value dan permintaan melebihi jumlah saham yang ditawarkan. Jadi tidak bisa dikatakan sebagai gorengan,” katanya kepada Bisnis pada Rabu (15/1/2020).

Lanjar menilai fenomena ARA adalah hal yang wajar. Investor, lanjutnya, yang tidak kebagian jatah pada masa IPO karena kelebihan permintaan pasti akan mengoleksi pada pencatatan perdana. Hal itu juga yang mendorong investor memburu saham emiten anyar di secondary market.

Menurutnya, fenomena ARA masih akan terus mewarnai perdagangan saham Bursa Efek Indonesia. Terutama untuk saham yang masih murah dan memiliki prospek bisnis bagus.

Pada Rabu (15/1/2020), harga saham PT Perintis Triniti Properti Tbk. (TRIN) melonjak 70% ke level Rp340 pada hari pertama setelah resmi diperdagangkan di BEI. TRIN adalah perusahaan ke-6 yang listing di BEI sepanjang Januari 2020 .

Sebelumnya, ada PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk. (AMOR) yanng melonjak 50% menjadi Rp2.850 dari harga pelaksanaan IPO Rp1.900. Lalu, emiten properti PT Royalindo Investa Wijaya Tbk. (INDO) yang melesat 70% mencapai Rp187.

PT Bank Amar Indonesia Tbk. (AMAR) dan PT Cisadane Sawit Raya Tbk. (CSRA) masing-masing melonjak 68,97% menjadi Rp294 per saham dan 69,60% menjadi Rp212 per saham.

Adapun emiten pertama pada 2020, PT Tourindo Guide Indonesia Tbk. (PGJO) meningkat 10% ke level Rp88 pada hari perdana diperdagangkan di BEI, 8 Januari 2020.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ipo transaksi saham
Editor : Ana Noviani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top